SDG 4 Pendidikan Berkualitas

  • |

    CDC Forestry UGM dan Control Union Academy Selenggarakan Pelatihan ISO 9001:2015 Internal Auditor

    Yogyakarta, 11 September 2026 — Career Development Center (CDC) Forestry Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Control Union Academy menyelenggarakan pelatihan ISO 9001:2015 Internal Auditor – Quality Management System selama dua hari, pada 10–11 September 2026, bertempat di Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam memperkuat kompetensi profesional sivitas akademika dan peserta pelatihan untuk memahami serta menerapkan sistem manajemen mutu dan audit internal secara efektif.

    Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System/QMS) ISO 9001:2015, sekaligus membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam melaksanakan audit internal. ISO 9001 merupakan standar sistem manajemen mutu bagi organisasi yang bertujuan mendukung kemampuan organisasi dalam menyediakan produk dan jasa secara konsisten sesuai dengan persyaratan pelanggan serta ketentuan yang berlaku. Penerapannya juga diarahkan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan melalui sistem yang efektif dan proses peningkatan yang berkelanjutan.

    Acara dibuka oleh Ketua CDC-Forestry UGM, Hermudananto, yang menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kolaborasi antara CDC-Forestry UGM dan Control Union Academy. Dalam sambutannya, Hermudananto juga menyampaikan bahwa kolaborasi ini akan dilanjutkan melalui serangkaian pelatihan berikutnya hingga Desember 2026, sebagai bagian dari upaya bersama untuk menyediakan program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan profesional dan dunia kerja.

    Pada hari pertama, 10 September 2026, peserta mendapatkan materi mengenai gambaran umum Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 serta pemahaman terhadap persyaratan standar yang mencakup Klausul 4 sampai dengan Klausul 10, meliputi konteks organisasi, kepemimpinan, perencanaan, dukungan, operasi, evaluasi kinerja, dan peningkatan. Peserta juga memperoleh materi mengenai sistem pengendalian dokumen ISO 9001:2015 sebagai salah satu aspek penting dalam mendukung efektivitas penerapan sistem manajemen mutu.

    Dalam pelatihan, peserta juga diperkenalkan pada prinsip-prinsip manajemen mutu yang meliputi customer focus, leadership, engagement of people, process approach, improvement, evidence-based decision making, dan relationship management. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam membangun sistem manajemen yang berorientasi pada kualitas, efektivitas proses, keterlibatan sumber daya manusia, serta peningkatan kinerja organisasi secara berkelanjutan. Selain itu, pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) juga dibahas sebagai kerangka untuk memastikan proses direncanakan, dilaksanakan, dipantau, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkesinambungan.

    Pada hari kedua, 11 September 2026, pelatihan difokuskan pada audit sistem manajemen. Materi meliputi gambaran umum audit, prinsip dan mekanisme audit, kompetensi auditor, program audit, serta pelaksanaan audit. Peserta kemudian mengikuti sesi audit kecukupan dokumen Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 serta simulasi audit internal. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep audit, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengidentifikasi bukti audit, melakukan verifikasi, menyusun pertanyaan audit berdasarkan kriteria yang relevan, serta mengenali ketidaksesuaian dan peluang perbaikan. Bukti audit dapat diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, maupun peninjauan dokumen.

    Pelatihan menghadirkan Dr. Ir. Wiyono, S.Hut., M.Si., IPU. sebagai narasumber. Beliau merupakan dosen Sekolah Vokasi UGM, asesor kompetensi BNSP, konsultan sertifikasi ISO, serta auditor sertifikasi SVLK dan PHL aspek sosial. Pengalaman tersebut memberikan perspektif praktis dalam memahami sistem manajemen mutu, persyaratan ISO 9001:2015, serta pelaksanaan audit internal dalam konteks organisasi.

    Melalui pelatihan ini, CDC-Forestry UGM dan Control Union Academy berharap peserta memiliki pemahaman dan kompetensi yang lebih baik dalam membangun, menerapkan, mengevaluasi, dan meningkatkan sistem manajemen mutu organisasi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia profesional melalui penyediaan program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Bagi CDC Forestry UGM, kegiatan tersebut sejalan dengan komitmen untuk memberikan layanan pengembangan karier dan kompetensi yang mendukung kesiapan sivitas akademika dalam menghadapi tuntutan profesional yang semakin dinamis.

    Penulis: Hermudananto


  • |

    CDC Forestry UGM Gelar Online Workshop “Mastering NVivo” untuk Perkuat Kapasitas Analisis Data Kualitatif

    Yogyakarta, 9 September 2026 — Career Development Center (CDC) Forestry, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Online Workshop “Mastering NVivo: Mengubah Data Kualitatif Menjadi Wawasan Berkelanjutan” pada Rabu, 9 September 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada pukul 15.30–17.00 WIB.
    Workshop menghadirkan Lutfiyyah Roihanah, S.Hut. sebagai narasumber. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman dan keterampilan praktis dalam mengelola, menganalisis, serta memvisualisasikan data kualitatif menggunakan perangkat lunak NVivo.

    Memperkuat Keterampilan Analisis Data Kualitatif

    Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep dasar qualitative data analysis dengan alur Data → Coding → Themes → Findings. NVivo diperkenalkan sebagai perangkat lunak yang dapat membantu peneliti mengorganisasi dan menganalisis data penelitian secara sistematis, termasuk transkrip, dokumen, PDF, catatan, audio/video, dan dataset.
    Penggunaan NVivo menjadi relevan terutama ketika peneliti menghadapi data yang beragam dan dalam jumlah besar. Melalui NVivo, proses pengorganisasian data, penelusuran kutipan, coding, serta eksplorasi pola dapat dilakukan secara lebih sistematis. Perangkat lunak ini juga membantu peneliti mengorganisasi literatur dan menghubungkan data dengan kategori, tema, hingga interpretasi.
    Pada sesi materi, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah konsep dasar dalam NVivo, antara lain Project, Files, Cases, dan Coding. Project menjadi ruang kerja utama penelitian, Files merupakan data atau dokumen yang dianalisis, Cases merepresentasikan unit analisis seperti informan, sedangkan Coding merupakan proses menghubungkan bagian data dengan node.

    Dari Coding Menuju Temuan Penelitian

    Workshop tidak hanya membahas proses memasukkan dan melakukan coding data, tetapi juga bagaimana hasil coding dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk menghasilkan wawasan penelitian.
    Setelah proses coding, NVivo menyediakan berbagai fitur untuk explore, visualize, dan interpret data. Peserta diperkenalkan pada fitur seperti Word Frequency, Text Search, Coding Query, dan Matrix Coding Query. Hasil analisis juga dapat divisualisasikan melalui Hierarchy Chart, Word Cloud, Project Map, dan Charts. Fitur-fitur tersebut dapat digunakan untuk membandingkan informan, melihat pola dan hubungan, serta menemukan perbedaan perspektif dalam data penelitian.
    Secara umum, tahapan pengolahan data dalam NVivo meliputi import data, organize sources, create code, coding, explore & query, visualize, hingga interpret. Dengan alur tersebut, data mentah dapat diolah secara sistematis hingga menghasilkan tema dan temuan penelitian.

    NVivo sebagai Alat, Peneliti Tetap Menjadi Pengambil Keputusan

    Salah satu pesan penting dalam workshop adalah bahwa NVivo hanyalah alat bantu dalam proses penelitian. Perangkat lunak ini dapat membantu mengorganisasi data, mengelola coding, menemukan pola, membandingkan data, serta memvisualisasikan hasil. Namun, keputusan ilmiah tetap berada pada peneliti, mulai dari menentukan research question, memilih data yang relevan, membuat keputusan coding, menafsirkan konteks, hingga menarik kesimpulan.
    Melalui kegiatan ini, CDC Forestry UGM mendorong peningkatan kapasitas mahasiswa, peneliti, akademisi, dan praktisi dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung proses penelitian yang lebih sistematis dan berbasis data.
    Workshop “Mastering NVivo” sekaligus menjadi bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam menghadirkan kegiatan pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan akademik dan profesional, khususnya dalam menghadapi data dan pendekatan penelitian yang semakin beragam di bidang kehutanan dan lingkungan.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    CDC-Forestry UGM Gelar Sharing Session “Explore Your Global Academic Journey”, Hadirkan Pengalaman Studi di Thailand dan Jepang

    Yogyakarta, 9 Juli 2026 – Career Development Center (CDC) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (CDC-Forestry UGM) kembali menyelenggarakan kegiatan pengembangan kapasitas mahasiswa melalui Sharing Session: Explore Your Global Academic Journey – Pengalaman Studi di Thailand & Jepang pada Kamis (9/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring pukul 13.00–15.00 WIB ini diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari mahasiswa dan alumni yang berminat melanjutkan studi ke luar negeri.

    Acara dibuka oleh moderator, Farah, yang mengawali sesi dengan memperkenalkan tujuan kegiatan serta para narasumber. Selanjutnya, Ketua CDC-Forestry UGM, Hermudananto, menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, Hermudananto menekankan bahwa kegiatan sharing session ini merupakan salah satu upaya CDC-Forestry UGM untuk memberikan inspirasi sekaligus motivasi kepada mahasiswa dalam mempersiapkan studi lanjut di luar negeri. Menurutnya, selain prestasi akademik, mahasiswa juga perlu memahami berbagai peluang, tantangan, serta strategi untuk mempersiapkan diri sebelum menempuh pendidikan di negara tujuan.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai kehidupan akademik maupun non-akademik selama studi di luar negeri. Pengalaman langsung dari para narasumber diharapkan dapat membantu mahasiswa menyusun rencana studi yang lebih matang sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk mengejar kesempatan belajar di tingkat internasional,” ujar Hermudananto.

    Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh wawasan dari dua narasumber yang merupakan dosen Fakultas Kehutanan UGM dengan pengalaman studi internasional.

    Narasumber pertama, Dr. Alnus Meinata, dosen dan peneliti di Laboratorium Pemuliaan Pohon dan Dendrologi, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di University of Tsukuba, Jepang. Alnus memiliki kepakaran di bidang dendrologi, konservasi spesies berkayu, genetika, serta pemuliaan pohon, dengan fokus penelitian terkini pada pemanfaatan machine learning untuk pemuliaan jati dalam menghadapi perubahan iklim global. Selain aktif melakukan penelitian, ia juga terlibat dalam berbagai proyek biodiversitas sebagai ahli flora.

    Dalam pemaparannya, Alnus menjelaskan berbagai alasan mengapa studi ke luar negeri menjadi investasi penting bagi pengembangan karier akademik maupun profesional. Ia menekankan bahwa studi di luar negeri memberikan kesempatan untuk mengakses fasilitas riset berkelas dunia, membangun jejaring internasional, memperluas perspektif lintas disiplin ilmu, serta mengembangkan kemampuan adaptasi dan kepemimpinan. Selain itu, ia juga berbagi informasi mengenai berbagai pilihan beasiswa, peluang pendanaan dari universitas, serta alternatif pembiayaan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa internasional. Ia juga mengajak peserta untuk tidak ragu mengejar kesempatan studi ke luar negeri karena tersedia berbagai skema beasiswa dan peluang kerja paruh waktu yang dapat membantu pembiayaan selama studi.

    Sementara itu, narasumber kedua, Annisa Primaningtyas, S.T., M.Eng., dosen Laboratorium Rekayasa Biomaterial, Departemen Teknologi Hasil Hutan, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand. Annisa merupakan lulusan Program Sarjana dan Magister Teknik Kimia UGM dengan bidang penelitian yang berfokus pada keberlanjutan hasil hutan.

    Dalam sesinya, Annisa memberikan gambaran mengenai berbagai peluang studi di Thailand, mulai dari sistem pendidikan pascasarjana, biaya hidup yang relatif terjangkau, hingga beragam pilihan beasiswa dari pemerintah, universitas, maupun lembaga internasional. Ia juga membagikan langkah-langkah praktis untuk mencari calon pembimbing (advisor), menyusun dokumen aplikasi, serta mempersiapkan proses seleksi beasiswa. Tidak hanya membahas aspek akademik, Annisa juga mengulas berbagai tantangan non-akademik yang umum dihadapi mahasiswa internasional, seperti adaptasi budaya, bahasa, makanan, hingga mengatasi homesick. Menurutnya, persiapan yang matang dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberhasilan selama menjalani studi di luar negeri.

    Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai strategi memperoleh beasiswa, tips menghubungi calon pembimbing, persiapan kemampuan bahasa Inggris, hingga pengalaman beradaptasi dengan lingkungan akademik dan kehidupan sehari-hari di Jepang maupun Thailand.

    Melalui kegiatan ini, CDC-Forestry UGM berharap semakin banyak mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM yang memiliki keberanian untuk merencanakan studi lanjut di luar negeri serta mampu mempersiapkan diri secara akademik maupun non-akademik sejak dini. Sharing session ini juga menjadi bagian dari komitmen CDC-Forestry UGM dalam mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa serta memperluas akses terhadap peluang pendidikan internasional.

    Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh narasumber, moderator, dan peserta sebagai penutup rangkaian acara.

    Penulis: Hermudananto

  • Strategi Menembus Karier Global di Negeri Sakura bersama Praktisi Langsung

    Yogyakarta, 11 April 2026 – Dalam rangkaian perayaan 1st Anniversary CDC Forestry UGM, Career Development Center Fakultas Kehutanan UGM sukses menyelenggarakan kegiatan Sharing Session: Goes to Japan! pada Sabtu, 11 April 2026 secara daring. Kegiatan ini menjadi wadah inspiratif bagi mahasiswa dan alumni yang memiliki minat untuk berkarier di Jepang, khususnya di sektor kehutanan dan bidang terkait.

    Acara ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman yang saat ini berkarier di Jepang, yaitu Andreas Ade Kristian dari Sumitomo Forestry Co., Ltd. dan Imaduddin Yusuf Hanif dari Asia Skill Exchange Association. Keduanya membagikan wawasan komprehensif mengenai peluang kerja, sistem rekrutmen, hingga tantangan bekerja di Jepang.

    Mengenal Sistem Rekrutmen dan Peluang Karier di Jepang

    Dalam pemaparannya, Andreas menjelaskan bahwa sistem rekrutmen di Jepang memiliki karakteristik yang sangat terstruktur dan terjadwal. Proses job hunting bahkan dimulai sekitar satu tahun sebelum kelulusan, di mana mahasiswa sudah dapat memperoleh job offer sebelum wisuda. Sistem ini dikenal dengan konsep mass recruitment untuk fresh graduate (shinsotsu), yang menekankan pada potensi, kepribadian, dan kesesuaian dengan perusahaan, bukan semata-mata keterampilan teknis.

    Ia juga menyoroti bahwa sektor kehutanan di Jepang memiliki cakupan luas, mulai dari traditional forestry, industri hasil hutan seperti pulp dan kertas, hingga riset dan konsultansi. Hal ini membuka peluang besar bagi lulusan kehutanan Indonesia untuk berkarier secara global.

    Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dipersiapkan, antara lain kemampuan bahasa Jepang (minimal JLPT N2/N1), kemampuan komunikasi, serta adaptasi terhadap budaya kerja Jepang yang dikenal disiplin dan terstruktur.

    Jalur Specified Skilled Worker (SSW): Peluang Alternatif

    Sementara itu, Imaduddin menjelaskan tentang program Tokutei Ginou atau Specified Skilled Worker (SSW) yang mulai diperkenalkan sejak 2019 untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Program ini memberikan peluang bagi tenaga kerja asing untuk bekerja di berbagai sektor, termasuk kehutanan dan industri kayu.

    Program SSW terbagi menjadi dua kategori, yaitu:

    • SSW Tipe 1: Masa tinggal maksimal 5 tahun tanpa membawa keluarga
    • SSW Tipe 2: Dapat diperpanjang tanpa batas dan memungkinkan membawa keluarga

    Untuk mengikuti program ini, peserta harus memenuhi beberapa persyaratan seperti lulus ujian keterampilan, memiliki kemampuan bahasa Jepang (minimal JLPT N4), serta berusia minimal 18 tahun.

    Imaduddin juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan budaya, termasuk memahami prinsip kerja Jepang seperti hourensou (komunikasi, laporan, dan konsultasi), serta menjaga kedisiplinan dan profesionalisme dalam bekerja.

    Tips Sukses Berkarier di Jepang

    Beberapa poin penting yang dibagikan oleh narasumber sebagai kunci sukses antara lain:

    • Konsisten meningkatkan kemampuan bahasa Jepang
    • Aktif membangun jaringan (networking) melalui alumni dan dosen
    • Memanfaatkan platform pencarian kerja dan career center
    • Memiliki sikap disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab
    • Terbuka terhadap budaya baru dan siap beradaptasi

    Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan

    Kegiatan ini mendapatkan antusiasme yang tinggi, tercatat lebih dari 50 peserta mendaftar dan mengikuti kegiatan secara daring. Diskusi interaktif yang berlangsung menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk mengembangkan karier di tingkat global, khususnya menuju Jepang sebagai salah satu negara dengan sistem industri kehutanan yang maju.

    Melalui kegiatan ini, CDC Forestry UGM berharap dapat terus memfasilitasi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja internasional serta memperluas jejaring profesional lintas negara.

    Penulis: Hermudananto

  • Menimba Ilmu di DLHK DIY: Cerita Magang Mahasiswa Kehutanan UGM dalam Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan

    Yogyakarta,  07 April 2026 – Magang mahasiswa merupakan kegiatan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas praktik kerja di lapangan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung di instansi yang dituju. Kegiatan magang mahasiswa dilaksanakan di DLHK DIY selama satu bulan, mulai 5 Januari hingga 5 Februari 2026, atas dukungan Career Development Center (CDC) Forestry UGM yang berperan dalam memfasilitasi pengembangan karier dan peningkatan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program, salah satunya magang mandiri. Empat mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM ditempatkan pada dua bidang berbeda yang saling melengkapi, yaitu Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan yang diikuti oleh Syahla Yasmine Nabila dan Wanda Illyasa Rizqi serta Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan yang diikuti oleh Najla Kamilah Salim dan Pinto Tungga Muhammad. Keterlibatan di kedua bidang memberikan gambaran utuh tentang tata kelola kehutanan dari aspek pemberdayaan masyarakat hingga administrasi peredaran hasil hutan.

    Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY) adalah instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya hutan di Provinsi DIY. Dinas ini menjalankan fungsi strategis dalam merumuskan kebijakan perlindungan lingkungan, rehabilitasi lahan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. DLHK DIY juga berperan sebagai fasilitator dan pengawas bagi kelompok tani hutan, penyuluh kehutanan, dan pelaku industri hasil hutan agar pemanfaatan sumber daya hutan berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan. Dalam perkembangannya, dinas ini aktif mendorong inovasi melalui program perhutanan sosial, pengembangan hasil hutan non-kayu, dan digitalisasi penatausahaan kayu rakyat demi terwujudnya pembangunan kehutanan yang modern dan akuntabel. Pada Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan, mahasiswa magang berkesempatan mengikuti empat kegiatan utama, yaitu Bimbingan Teknis PKSM Gunungkidul, Rakorluh Tingkat Provinsi DIY 2026, Bimbingan Teknis PKSM Bantul, dan Bimbingan Teknis KTH Sido Rahayu. Dari Bimtek PKSM Gunungkidul, mahasiswa memperoleh pemahaman nyata tentang pengelolaan hutan tanaman rakyat melalui sistem tumpangsari berbasis MPTS dengan komoditas unggulan kopi, alpukat, kemiri, dan petai yang bernilai ekonomi sekaligus ekologis. Melalui Rakorluh yang berkolaborasi dengan BP2SDM Kementerian Kehutanan, mahasiswa mendapat wawasan tentang tantangan nyata peran penyuluhan kehutanan di lapangan, termasuk pentingnya pencatatan dan analisis Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) sebagai indikator kinerja di mana DIY sendiri menempati peringkat ke-8 nasional dengan NTE mencapai Rp11,2 miliar. Bimtek PKSM Bantul membuka perspektif mahasiswa bahwa diversifikasi hutan rakyat menjadi agrowisata terpadu, seperti yang dicontohkan Wanadelima Orchard, mampu menciptakan multi-income secara berkelanjutan. Adapun Bimtek KTH Sido Rahayu yang berkolaborasi dengan BPDAS Opak Serayu mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya rehabilitasi lahan kritis melalui penghijauan, konservasi tanah, dan penguatan kelembagaan kelompok tani sebagai fondasi keberlanjutan hutan rakyat. Dari keseluruhan kegiatan tersebut, mahasiswa menyadari bahwa kerja penyuluhan kehutanan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses panjang membangun kepercayaan, mengubah perilaku, dan menghidupkan harapan di tengah masyarakat tani hutan yang selama ini menjadi garda terdepan penjaga kelestarian hutan.

    Pada Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan, mahasiswa magang terlibat langsung dalam tiga kegiatan utama yang memberikan pengalaman teknis berharga, yaitu Stock Opname dan Monitoring Industri, Penilaian Hasil Inventarisasi HKm Sedyo Makmur, dan Sosialisasi SIKARYO. Melalui kegiatan stock opname di sejumlah industri pengolahan kayu di DIY, mahasiswa belajar menginput dan mengolah data stok kayu bulanan 2025 ke dalam spreadsheet terstruktur sebagai bagian dari persyaratan RPBBI, sekaligus menghasilkan Berita Acara kondisi stok kayu per perusahaan. Kegiatan penilaian inventarisasi tegakan jati di HKm Sedyo Makmur melatih mahasiswa dalam menerapkan inventarisasi di lapangan, dan dari sini mahasiswa memahami bahwa jika terdapat perbedaan signifikan antara volume LHC dan hasil penilaian aktual, maka dapat berdampak besar pada pengambilan keputusan, sehingga verifikasi data lapangan menjadi sangat krusial. Sosialisasi Sistem Informasi Kayu Rakyat Yogyakarta (SIKARYO) yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan tentang penatausahaan kayu rakyat secara tertib dan transparan melalui sistem berbasis web. Kegiatan ini memperkenalkan SIKARYO sebagai sistem untuk pencatatan, pelaporan, dan pelacakan asal usul kayu, dengan output utama berupa Surat Angkutan Kayu Rakyat (SAKR). Efektivitas sosialisasi diukur melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Pengalaman ini menegaskan kepada mahasiswa bahwa di balik selembar dokumen angkutan kayu, terdapat sistem panjang yang menuntut ketelitian, integritas data, dan komitmen bersama. Peran mahasiswa kehutanan kelak bukan hanya di hutan, tetapi juga dalam memastikan setiap pohon yang ditebang tercatat, legal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

    Magang di DLHK DIY membuktikan bahwa pembangunan kehutanan yang efektif memerlukan keterpaduan antara penguatan sosial-kelembagaan dan ketertiban administrasi hasil hutan. Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan menegaskan peran strategis penyuluh dan inovasi agribisnis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani hutan, sedangkan Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan mempertegas pentingnya verifikasi data, kepatuhan hukum, dan adaptasi dengan teknologi digital dalam pengawasan kayu rakyat. Kedua bidang terbukti saling melengkapi dan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam memasuki dunia kerja kehutanan. 

    Penulis: Syahla Yasmine Nabila, Wanda Illyasa Rizqi, Najla Kamilah Salim, Pinto Tungga Muhammad

  • Kupas Tuntas Carbon Management Bersama Praktisi Global Dari Control Union

    Yogyakarta, 02 April 2026 – Career Development Center Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (CDC Forestry UGM) kembali menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Carbon Management for Businesses: Ensuring Credible Action through Validation and Verification Body” pada Kamis, 2 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan narasumber internasional, Gayan Ranasinghe dari Control Union.

    Bertempat di Dome IFFLC Lantai 7 Fakultas Kehutanan UGM, acara ini berlangsung dengan antusiasme tinggi. Tercatat lebih dari 50 peserta mengikuti kegiatan ini, baik secara luring (offline) maupun daring (online).

    Dalam kuliah umum ini, peserta diajak memahami secara komprehensif konsep carbon management dalam dunia bisnis, termasuk bagaimana mekanisme carbon credit bekerja serta pentingnya proses validasi dan verifikasi oleh lembaga independen. Materi yang disampaikan menekankan bahwa aksi lingkungan perusahaan tidak hanya perlu dilakukan, tetapi juga harus dapat dibuktikan secara kredibel sesuai standar internasional.

    Gayan Ranasinghe menjelaskan bahwa keberadaan Validation and Verification Body (VVB) menjadi kunci dalam memastikan bahwa klaim pengurangan emisi yang dilakukan perusahaan benar-benar terukur, transparan, dan dapat dipercaya. Hal ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

    Kegiatan ini juga membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang karier di bidang karbon dan keberlanjutan, yang saat ini berkembang pesat di tingkat global. Diskusi interaktif yang terjadi selama sesi tanya jawab menunjukkan tingginya minat peserta terhadap isu perubahan iklim dan implementasinya di sektor kehutanan maupun industri.

    Melalui kegiatan ini, CDC Forestry UGM berharap dapat terus menjembatani mahasiswa dengan dunia profesional, khususnya dalam isu-isu strategis seperti climate action dan sustainability. SDG 13: Climate Action – melalui peningkatan pemahaman terkait mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan karbon

    Dengan semakin berkembangnya pasar karbon dan meningkatnya kebutuhan akan tenaga ahli di bidang ini, kegiatan seperti ini diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi rimbawan yang siap menjadi carbon expert di masa depan.

    Penulis: Hermudananto

  • Penandatanganan MoU Fakultas Kehutanan UGM dan PT PCU Indonesia (Control Union) Perkuat Kolaborasi Pengembangan SDM Kehutanan

    Yogyakarta, 02 April 2026  – Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada melalui Career Development Center (CDC-Forestry UGM) secara resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT PCU Indonesia pada Kamis, 2 April 2026. Kegiatan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini berlangsung di Ruang Sidang Dekanat, Fakultas Kehutanan UGM.

    Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., serta Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama, Prof. Ir. Widiyatno, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM.. Turut hadir pula Ketua CDC-Forestry UGM, Ir. Hermudananto, S.Hut., M.Sc., IPM, ASEAN Eng., dan Wakil Ketua CDC-Forestry UGM, Dr. Hairi Cipta, S.Hut., M.Agr.

    Dari pihak Control Union Indonesia, kegiatan ini dihadiri oleh Gayan Wejesiriwardana selaku Managing Director, Arif Pamungkas selaku Business Development Manager, Gayan Ranasinghe selaku Scheme Manager of Assurance Services, serta Muhamad Rifki selaku Senior Business Development Executive.

    Kerja sama ini berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pelatihan di sektor kehutanan dan lingkungan, sebagai bagian dari upaya mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Implementasi kerja sama akan mencakup berbagai kegiatan, seperti penyelenggaraan pelatihan profesional, kuliah tamu (guest lecture), serta program kolaboratif lainnya yang relevan dengan kebutuhan industri kehutanan dan lingkungan yang terus berkembang.

    Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kehutanan UGM menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab tantangan global, khususnya terkait isu keberlanjutan, perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Sementara itu, Gayan Wejesiriwardana selaku Managing Director Control Union Indonesia, menyampaikan komitmennya untuk mendukung peningkatan kapasitas mahasiswa dan tenaga profesional kehutanan melalui standar internasional dan praktik terbaik di bidang sertifikasi dan verifikasi.

    Sebagai bentuk realisasi awal dari kerja sama ini, pada hari yang sama setelah penandatanganan MoU, diselenggarakan kegiatan kuliah umum bertajuk “Carbon Management for Businesses: Ensuring Credible Action through Validation and Verification Body”.

    Kuliah umum ini menghadirkan Gayan Ranasinghe dari Control Union, yang membahas secara komprehensif pentingnya pengelolaan karbon bagi sektor bisnis serta peran lembaga validasi dan verifikasi dalam memastikan aksi iklim yang kredibel dan terukur.

    Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa dan civitas akademika Fakultas Kehutanan UGM, serta menjadi langkah awal yang konkret dalam memperkuat sinergi antara akademisi dan praktisi dalam menghadapi tantangan keberlanjutan global.

    Melalui kerja sama ini, diharapkan lulusan Fakultas Kehutanan UGM semakin siap menghadapi dunia kerja dengan kompetensi yang relevan, sekaligus berkontribusi dalam pengelolaan hutan dan lingkungan yang berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.

    Penulis: Hermudananto

  • Belajar Rehabilitasi Hutan dari Lapangan: Pengalaman Magang di PT Tectona Alas Makmur

    Yogyakarta, 16 Maret 2026 – Program Magang menjadi salah satu sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar langsung di dunia kerja. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperdalam pengetahuan teoritis yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga mengasah keterampilan praktis di bidang kehutanan.

    Salah satu mahasiswa yang mengikuti program ini adalah Muhammad Suryanto, mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Universitas Gadjah Mada (UGM) semester 7. Ia berkesempatan melaksanakan kegiatan magang di PT Tectona Alas Makmur, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang rehabilitasi hutan dan lahan. Kegiatan magang ini berlangsung selama empat bulan, yaitu dari 10 September 2025 hingga 10 Januari 2026, dengan lokasi kegiatan di wilayah operasional perusahaan di Kalimantan Timur.

    Kesempatan mengikuti magang di PT Tectona Alas Makmur diperoleh melalui dukungan Career Development Center Forestry UGM (CDC Forestry UGM) yang secara aktif membagikan informasi terkait peluang magang bagi mahasiswa. Informasi mengenai open recruitment magang pertama kali diketahui melalui media sosial Instagram CDC Forestry UGM. Setelah melihat informasi tersebut, Muhammad Suryanto tertarik untuk mendaftar dan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan.

    Setelah melalui proses pendaftaran dan seleksi, Muhammad Suryanto menerima kabar melalui email konfirmasi bahwa dirinya dinyatakan lolos untuk mengikuti program magang di PT Tectona Alas Makmur. Pengumuman tersebut menjadi momen yang membahagiakan sekaligus membuka kesempatan berharga untuk belajar langsung di lingkungan kerja profesional.

    Sebelum memulai kegiatan magang, Muhammad Suryanto melakukan koordinasi awal dengan pihak PT Tectona Alas Makmur dan CDC Forestry UGM untuk melengkapi berbagai persyaratan administrasi serta mempersiapkan keberangkatan menuju lokasi kegiatan di Kalimantan Timur. Selama menjalani program magang di PT Tectona Alas Makmur, Muhammad Suryanto memperoleh banyak pengalaman dan pembelajaran yang berharga, khususnya dalam bidang rehabilitasi dan reklamasi hutan. Ia berkesempatan untuk mempelajari berbagai kegiatan teknis, mulai dari perencanaan rehabilitasi hutan, pengelolaan lahan rehabilitasi, perawatan dan pemeliharaan tanaman rehabilitasi hutan di lapangan dan kegiatan evaluasi tanaman rehabilitasi, yang bertujuan untuk menilai perkembangan dan keberhasilan program rehabilitasi hutan.

    Melalui pengalaman ini, Muhammad Suryanto dapat memahami secara langsung bagaimana konsep pengelolaan hutan yang dipelajari di perkuliahan diterapkan dalam praktik di lapangan. Kegiatan magang ini juga memberikan wawasan baru mengenai pentingnya rehabilitasi hutan dalam menjaga kondisi lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

    Di akhir kegiatan magang, Muhammad Suryanto menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PT Tectona Alas Makmur yang telah memberikan kesempatan belajar serta pengalaman berharga selama magang. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada CDC Forestry UGM yang telah memfasilitasi mahasiswa dalam memperoleh informasi dan kesempatan magang.

    Penulis: Muhammad Suryanto

  • Magang Mandiri di Kawasan Konservasi: Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM Perkuat Pembelajaran Berbasis Praktik di Taman Nasional Gunung Merbabu

    Yogyakarta, 06 Maret 2026 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Magang Mandiri memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang sebagai sarana penguatan kompetensi dan pengalaman praktis di bidang kehutanan. Kegiatan magang tersebut dilaksanakan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, yaitu Nasywa Anindya Fauzi, Najwa Aulia Luthfi Safira, Khoeirien Riedha Faaza, di Balai Taman Nasional Gunung Merbabu pada periode 05 Januari – 06 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pengelolaan kawasan konservasi serta memperdalam pemahaman mengenai praktik pengelolaan hutan di lapangan.

    Pelaksanaan kegiatan magang ini juga mendapatkan dukungan dari Career Development Center Forestry UGM (CDC-Forestry UGM) yang berperan dalam memfasilitasi pengembangan karier mahasiswa melalui penyediaan informasi peluang magang, penguatan jejaring dengan berbagai institusi mitra, serta pendampingan mahasiswa dalam pelaksanaan program magang. Melalui dukungan CDC Forestry UGM, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman profesional yang relevan dengan bidang keilmuan kehutanan sekaligus memperluas wawasan mengenai dunia kerja di sektor kehutanan dan konservasi. Kegiatan magang mandiri ini dilaksanakan di wilayah kerja Balai Taman Nasional Gunung Merbabu tepatnya pada Resort Wonolelo yang berada di SPTN II Wilayah Krogowanan. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa mendapatkan bimbingan dari staf dan pengelola kawasan serta terlibat dalam berbagai kegiatan teknis yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi.

    Dalam kegiatan magang ini, terdapat dua tema utama yang menjadi fokus pembelajaran, yaitu estimasi cadangan karbon dan inventarisasi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Pada kegiatan estimasi cadangan karbon, mahasiswa melakukan pengambilan data lapangan untuk mendukung pendugaan cadangan karbon pada vegetasi hutan. Sementara itu, kegiatan inventarisasi sosial ekonomi dilakukan untuk memahami kondisi serta keterkaitan masyarakat sekitar dengan kawasan hutan, termasuk pemanfaatan sumber daya dan dinamika sosial yang berkembang di tempat wisata Top Selfie Pinusan Kragilan yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.

    Selain kegiatan utama tersebut, mahasiswa juga berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Resort Wonolelo, salah satunya adalah patroli kawasan. Kegiatan patroli ini bertujuan untuk memantau kondisi kawasan serta menjaga kelestarian hutan dari berbagai potensi gangguan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami secara langsung peran penting patroli dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi.

    Mahasiswa juga diperkenalkan dengan kegiatan pengelolaan persemaian yang ada di kawasan, termasuk proses pembibitan serta teknik penanaman beberapa jenis tanaman kehutanan. Salah satu kegiatan yang dipelajari adalah praktik penanaman bibit pulai sebagai bagian dari upaya pemulihan dan pengayaan vegetasi di kawasan hutan. Kegiatan ini memberikan pemahaman praktis mengenai tahapan pembibitan hingga penanaman yang menjadi bagian penting dalam kegiatan rehabilitasi hutan.

    Melalui kegiatan magang mandiri ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar yang komprehensif mengenai pengelolaan kawasan konservasi, mulai dari aspek ekologi hingga sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan. Pengalaman ini juga diharapkan mampu memperkuat pemahaman mahasiswa dalam mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan praktik pengelolaan hutan di lapangan.

    Kedepannya, kegiatan magang seperti ini diharapkan dapat terus mempererat hubungan kerja sama antara Fakultas Kehutanan UGM dengan pengelola kawasan konservasi seperti Taman Nasional, sehingga dapat mendukung pengembangan pendidikan kehutanan yang aplikatif serta berkontribusi pada pengelolaan hutan yang berkelanjutan di Indonesia.

    Penulis: Nasywa Anindya Fauzi, Najwa Aulia Luthfi Safira, Khoeirien Riedha Faaza

  • Siapkan Karier Global Mahasiswa, CDC- Forestry UGM Gelar Short Course “Japanese for Workplace Readiness”

    Yogyakarta, 27 Februari 2026 – Dalam upaya mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa, CDC-Forestry UGM menyelenggarakan program Short Course “Japanese for Workplace Readiness”, sebuah program pelatihan bahasa dan budaya kerja Jepang yang dirancang khusus bagi mahasiswa S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Program ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar bahasa Jepang serta pemahaman mengenai etika dan kesiapan kerja di lingkungan profesional Jepang.

    Kegiatan ini menghadirkan dua tutor yang memiliki pengalaman akademik dan internasional, yaitu Tomoha Onuma dari Kyushu University serta Annisa Diva Rahmawati dari Fakultas Kehutanan UGM. Melalui sesi pembelajaran yang interaktif, peserta akan mendapatkan pengenalan bahasa Jepang praktis yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di tempat kerja, sekaligus pemahaman mengenai budaya profesional di Jepang.

    Program short course ini dilaksanakan setiap hari Jumat selama tiga bulan, yaitu pada periode Februari hingga April 2026 (kecuali hari libur nasional). Pertemuan perdana dilaksanakan pada 27 Februari 2026 pukul 10.00–11.00 WIB bertempat di Ruang Multimedia Fakultas Kehutanan UGM. Seluruh peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan secara lengkap akan memperoleh e-certificate sebagai bentuk pengakuan atas partisipasi mereka dalam program ini.

    Sebagai program pengembangan karier yang bersifat eksklusif, kegiatan ini memiliki kuota terbatas hanya untuk 25 mahasiswa S1 Fakultas Kehutanan UGM. Untuk mengikuti program ini, peserta diwajibkan melampirkan surat motivasi serta komitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.

    Melalui penyelenggaraan program ini, CDC Forestry UGM berharap mahasiswa tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa asing, tetapi juga memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkarier di tingkat internasional, khususnya di Jepang. Program ini juga menjadi bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam memperluas peluang karier global bagi mahasiswa kehutanan serta memperkuat jejaring akademik dan profesional dengan institusi internasional.

    Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat mulai mempersiapkan langkah menuju karier global serta membuka peluang berkontribusi dalam sektor kehutanan di tingkat internasional.

    Penulis: Hermudananto