Belajar Rehabilitasi Hutan dari Lapangan: Pengalaman Magang di PT Tectona Alas Makmur

Yogyakarta, 16 Maret 2026 – Program Magang menjadi salah satu sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar langsung di dunia kerja. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperdalam pengetahuan teoritis yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga mengasah keterampilan praktis di bidang kehutanan.

Salah satu mahasiswa yang mengikuti program ini adalah Muhammad Suryanto, mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Universitas Gadjah Mada (UGM) semester 7. Ia berkesempatan melaksanakan kegiatan magang di PT Tectona Alas Makmur, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang rehabilitasi hutan dan lahan. Kegiatan magang ini berlangsung selama empat bulan, yaitu dari 10 September 2025 hingga 10 Januari 2026, dengan lokasi kegiatan di wilayah operasional perusahaan di Kalimantan Timur.

Kesempatan mengikuti magang di PT Tectona Alas Makmur diperoleh melalui dukungan Career Development Center Forestry UGM (CDC Forestry UGM) yang secara aktif membagikan informasi terkait peluang magang bagi mahasiswa. Informasi mengenai open recruitment magang pertama kali diketahui melalui media sosial Instagram CDC Forestry UGM. Setelah melihat informasi tersebut, Muhammad Suryanto tertarik untuk mendaftar dan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan.

Setelah melalui proses pendaftaran dan seleksi, Muhammad Suryanto menerima kabar melalui email konfirmasi bahwa dirinya dinyatakan lolos untuk mengikuti program magang di PT Tectona Alas Makmur. Pengumuman tersebut menjadi momen yang membahagiakan sekaligus membuka kesempatan berharga untuk belajar langsung di lingkungan kerja profesional.

Sebelum memulai kegiatan magang, Muhammad Suryanto melakukan koordinasi awal dengan pihak PT Tectona Alas Makmur dan CDC Forestry UGM untuk melengkapi berbagai persyaratan administrasi serta mempersiapkan keberangkatan menuju lokasi kegiatan di Kalimantan Timur. Selama menjalani program magang di PT Tectona Alas Makmur, Muhammad Suryanto memperoleh banyak pengalaman dan pembelajaran yang berharga, khususnya dalam bidang rehabilitasi dan reklamasi hutan. Ia berkesempatan untuk mempelajari berbagai kegiatan teknis, mulai dari perencanaan rehabilitasi hutan, pengelolaan lahan rehabilitasi, perawatan dan pemeliharaan tanaman rehabilitasi hutan di lapangan dan kegiatan evaluasi tanaman rehabilitasi, yang bertujuan untuk menilai perkembangan dan keberhasilan program rehabilitasi hutan.

Melalui pengalaman ini, Muhammad Suryanto dapat memahami secara langsung bagaimana konsep pengelolaan hutan yang dipelajari di perkuliahan diterapkan dalam praktik di lapangan. Kegiatan magang ini juga memberikan wawasan baru mengenai pentingnya rehabilitasi hutan dalam menjaga kondisi lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Di akhir kegiatan magang, Muhammad Suryanto menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PT Tectona Alas Makmur yang telah memberikan kesempatan belajar serta pengalaman berharga selama magang. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada CDC Forestry UGM yang telah memfasilitasi mahasiswa dalam memperoleh informasi dan kesempatan magang.

Penulis: Muhammad Suryanto

Similar Posts

  • |

    Kuliah Tamu Bersama Aida Greenbury: Mendalami Bioekonomi dan Transisi Hijau

    Yogyakarta, 13 Oktober 2025 – Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada melalui Career Development Center (CDC-Forestry UGM) bekerja sama dengan Keluarga Mahasiswa Manajemen Hutan (KMMH) sukses menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Kontestasi Bioekonomi Berkelanjutan dan Hilirisasi dalam Era Transisi Hijau” bersama Aida Greenbury, Board of Advisors di World Bioeconomy Forum.

    Kegiatan ini menjadi wadah inspiratif bagi mahasiswa dan akademisi untuk memperdalam pemahaman mengenai bioekonomi berkelanjutan, yang kini menjadi salah satu strategi global dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

    Acara dibuka oleh Hermudananto, selaku Ketua CDC-Forestry UGM, dilanjutkan dengan sambutan dari Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan UGM, serta Ketua KMMH Fakultas Kehutanan UGM yang menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa dan lembaga pengembangan karier dalam memperkuat wawasan global di bidang kehutanan dan bioekonomi.

    Turut hadir pula Prof. Dr. Ir. Sri Nugroho Marsoem, M.Agr., dosen pembimbing Ibu Aida Greenbury semasa beliau menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kehutanan UGM, yang memberikan sambutan hangat dan apresiasi atas kontribusi Aida dalam memajukan isu keberlanjutan di tingkat internasional.

    Dalam pemaparannya, Aida Greenbury menguraikan pentingnya bioekonomi sirkular sebagai model ekonomi masa depan yang mengedepankan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan, berbasis inovasi, ilmu pengetahuan, dan konservasi keanekaragaman hayati. Ia menyoroti potensi besar Indonesia dalam pengembangan bioindustri berbasis kehutanan, agroforestri, dan biomassa, dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem hutan dan hak masyarakat lokal.

    Materi yang disampaikan juga menyoroti tren global bioekonomi, termasuk kebijakan dari berbagai negara seperti Jepang dan Finlandia, proyeksi pasar kayu dalam bioindustri, serta tantangan lingkungan yang harus diantisipasi agar transisi hijau benar-benar inklusif dan berkeadilan.

    Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang sesi berlangsung. Lebih dari 100 peserta hadir secara luring dan daring, aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait peluang karier, inovasi, serta peran kehutanan dalam ekonomi berkelanjutan.

    Melalui kegiatan kolaboratif antara CDC-Forestry UGM dan KMMH, Fakultas Kehutanan UGM berkomitmen memperkuat jejaring akademik dan profesional mahasiswa dengan tokoh-tokoh global, guna membuka wawasan dan peluang karier di bidang kehutanan berkelanjutan dan bioekonomi masa depan.

    Penulis: Hermudananto

  • Menimba Ilmu di DLHK DIY: Cerita Magang Mahasiswa Kehutanan UGM dalam Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan

    Yogyakarta,  07 April 2026 – Magang mahasiswa merupakan kegiatan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas praktik kerja di lapangan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung di instansi yang dituju. Kegiatan magang mahasiswa dilaksanakan di DLHK DIY selama satu bulan, mulai 5 Januari hingga 5 Februari 2026, atas dukungan Career Development Center (CDC) Forestry UGM yang berperan dalam memfasilitasi pengembangan karier dan peningkatan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program, salah satunya magang mandiri. Empat mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM ditempatkan pada dua bidang berbeda yang saling melengkapi, yaitu Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan yang diikuti oleh Syahla Yasmine Nabila dan Wanda Illyasa Rizqi serta Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan yang diikuti oleh Najla Kamilah Salim dan Pinto Tungga Muhammad. Keterlibatan di kedua bidang memberikan gambaran utuh tentang tata kelola kehutanan dari aspek pemberdayaan masyarakat hingga administrasi peredaran hasil hutan.

    Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY) adalah instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya hutan di Provinsi DIY. Dinas ini menjalankan fungsi strategis dalam merumuskan kebijakan perlindungan lingkungan, rehabilitasi lahan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. DLHK DIY juga berperan sebagai fasilitator dan pengawas bagi kelompok tani hutan, penyuluh kehutanan, dan pelaku industri hasil hutan agar pemanfaatan sumber daya hutan berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan. Dalam perkembangannya, dinas ini aktif mendorong inovasi melalui program perhutanan sosial, pengembangan hasil hutan non-kayu, dan digitalisasi penatausahaan kayu rakyat demi terwujudnya pembangunan kehutanan yang modern dan akuntabel. Pada Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan, mahasiswa magang berkesempatan mengikuti empat kegiatan utama, yaitu Bimbingan Teknis PKSM Gunungkidul, Rakorluh Tingkat Provinsi DIY 2026, Bimbingan Teknis PKSM Bantul, dan Bimbingan Teknis KTH Sido Rahayu. Dari Bimtek PKSM Gunungkidul, mahasiswa memperoleh pemahaman nyata tentang pengelolaan hutan tanaman rakyat melalui sistem tumpangsari berbasis MPTS dengan komoditas unggulan kopi, alpukat, kemiri, dan petai yang bernilai ekonomi sekaligus ekologis. Melalui Rakorluh yang berkolaborasi dengan BP2SDM Kementerian Kehutanan, mahasiswa mendapat wawasan tentang tantangan nyata peran penyuluhan kehutanan di lapangan, termasuk pentingnya pencatatan dan analisis Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) sebagai indikator kinerja di mana DIY sendiri menempati peringkat ke-8 nasional dengan NTE mencapai Rp11,2 miliar. Bimtek PKSM Bantul membuka perspektif mahasiswa bahwa diversifikasi hutan rakyat menjadi agrowisata terpadu, seperti yang dicontohkan Wanadelima Orchard, mampu menciptakan multi-income secara berkelanjutan. Adapun Bimtek KTH Sido Rahayu yang berkolaborasi dengan BPDAS Opak Serayu mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya rehabilitasi lahan kritis melalui penghijauan, konservasi tanah, dan penguatan kelembagaan kelompok tani sebagai fondasi keberlanjutan hutan rakyat. Dari keseluruhan kegiatan tersebut, mahasiswa menyadari bahwa kerja penyuluhan kehutanan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses panjang membangun kepercayaan, mengubah perilaku, dan menghidupkan harapan di tengah masyarakat tani hutan yang selama ini menjadi garda terdepan penjaga kelestarian hutan.

    Pada Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan, mahasiswa magang terlibat langsung dalam tiga kegiatan utama yang memberikan pengalaman teknis berharga, yaitu Stock Opname dan Monitoring Industri, Penilaian Hasil Inventarisasi HKm Sedyo Makmur, dan Sosialisasi SIKARYO. Melalui kegiatan stock opname di sejumlah industri pengolahan kayu di DIY, mahasiswa belajar menginput dan mengolah data stok kayu bulanan 2025 ke dalam spreadsheet terstruktur sebagai bagian dari persyaratan RPBBI, sekaligus menghasilkan Berita Acara kondisi stok kayu per perusahaan. Kegiatan penilaian inventarisasi tegakan jati di HKm Sedyo Makmur melatih mahasiswa dalam menerapkan inventarisasi di lapangan, dan dari sini mahasiswa memahami bahwa jika terdapat perbedaan signifikan antara volume LHC dan hasil penilaian aktual, maka dapat berdampak besar pada pengambilan keputusan, sehingga verifikasi data lapangan menjadi sangat krusial. Sosialisasi Sistem Informasi Kayu Rakyat Yogyakarta (SIKARYO) yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan tentang penatausahaan kayu rakyat secara tertib dan transparan melalui sistem berbasis web. Kegiatan ini memperkenalkan SIKARYO sebagai sistem untuk pencatatan, pelaporan, dan pelacakan asal usul kayu, dengan output utama berupa Surat Angkutan Kayu Rakyat (SAKR). Efektivitas sosialisasi diukur melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Pengalaman ini menegaskan kepada mahasiswa bahwa di balik selembar dokumen angkutan kayu, terdapat sistem panjang yang menuntut ketelitian, integritas data, dan komitmen bersama. Peran mahasiswa kehutanan kelak bukan hanya di hutan, tetapi juga dalam memastikan setiap pohon yang ditebang tercatat, legal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

    Magang di DLHK DIY membuktikan bahwa pembangunan kehutanan yang efektif memerlukan keterpaduan antara penguatan sosial-kelembagaan dan ketertiban administrasi hasil hutan. Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan menegaskan peran strategis penyuluh dan inovasi agribisnis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani hutan, sedangkan Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan mempertegas pentingnya verifikasi data, kepatuhan hukum, dan adaptasi dengan teknologi digital dalam pengawasan kayu rakyat. Kedua bidang terbukti saling melengkapi dan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam memasuki dunia kerja kehutanan. 

    Penulis: Syahla Yasmine Nabila, Wanda Illyasa Rizqi, Najla Kamilah Salim, Pinto Tungga Muhammad

  • |

    Fakultas Kehutanan UGM dan PT Daemeter Consulting Teken MoU Pengembangan SDM dan Pelatihan di Sektor Kehutanan dan Lingkungan

    Yogyakarta, 19 Agustus 2025 – Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalin kerja sama strategis dengan PT Daemeter Consulting melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) mengenai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pelatihan di Sektor Kehutanan dan Lingkungan. Penandatanganan MoU berlangsung pada Selasa, 19 Agustus 2025 di Fakultas Kehutanan UGM, dan dilakukan langsung oleh Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.Agr., Ph.D, IPU., selaku Dekan Fakultas Kehutanan UGM, bersama dengan Aisyah Erawati Sileuw, Presiden Direktur PT Daemeter Consulting.

    Acara ini turut dihadiri oleh Prof. Ir. Widiyatno, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM, selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama; Hermudananto, Ketua Career Development Center (CDC-Forestry UGM); serta Sahat Aritonang, Director of Technical Operations PT Daemeter Consulting. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kehutanan UGM menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting untuk memperkuat peran fakultas dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan praktis di dunia kerja kehutanan dan lingkungan. “Kerja sama ini akan membuka ruang bagi mahasiswa dan alumni untuk memperoleh pengalaman, pengetahuan, serta pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga semakin memperkuat daya saing mereka di tingkat nasional maupun global,” ujar Ir. Sigit Sunarta.

    Sementara itu, Aisyah Erawati Sileuw menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor swasta dalam mewujudkan praktik kehutanan yang berkelanjutan. “Kami percaya bahwa sinergi dengan dunia akademik akan mendorong lahirnya inovasi, sekaligus meningkatkan kapasitas SDM di sektor kehutanan dan lingkungan. MoU ini menjadi fondasi awal dari berbagai program pelatihan dan pengembangan yang akan kita jalankan bersama,” ungkapnya. Melalui MoU ini, ruang lingkup kerja sama meliputi penyelenggaraan pelatihan, workshop, magang, pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri, serta kolaborasi dalam penelitian terapan.

    Dengan adanya kolaborasi ini, Fakultas Kehutanan UGM dan PT Daemeter Consulting berkomitmen untuk berkontribusi dalam penguatan kapasitas SDM kehutanan dan lingkungan di Indonesia, guna mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan.

  • Strategi Menembus Karier Global di Negeri Sakura bersama Praktisi Langsung

    Yogyakarta, 11 April 2026 – Dalam rangkaian perayaan 1st Anniversary CDC Forestry UGM, Career Development Center Fakultas Kehutanan UGM sukses menyelenggarakan kegiatan Sharing Session: Goes to Japan! pada Sabtu, 11 April 2026 secara daring. Kegiatan ini menjadi wadah inspiratif bagi mahasiswa dan alumni yang memiliki minat untuk berkarier di Jepang, khususnya di sektor kehutanan dan bidang terkait.

    Acara ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman yang saat ini berkarier di Jepang, yaitu Andreas Ade Kristian dari Sumitomo Forestry Co., Ltd. dan Imaduddin Yusuf Hanif dari Asia Skill Exchange Association. Keduanya membagikan wawasan komprehensif mengenai peluang kerja, sistem rekrutmen, hingga tantangan bekerja di Jepang.

    Mengenal Sistem Rekrutmen dan Peluang Karier di Jepang

    Dalam pemaparannya, Andreas menjelaskan bahwa sistem rekrutmen di Jepang memiliki karakteristik yang sangat terstruktur dan terjadwal. Proses job hunting bahkan dimulai sekitar satu tahun sebelum kelulusan, di mana mahasiswa sudah dapat memperoleh job offer sebelum wisuda. Sistem ini dikenal dengan konsep mass recruitment untuk fresh graduate (shinsotsu), yang menekankan pada potensi, kepribadian, dan kesesuaian dengan perusahaan, bukan semata-mata keterampilan teknis.

    Ia juga menyoroti bahwa sektor kehutanan di Jepang memiliki cakupan luas, mulai dari traditional forestry, industri hasil hutan seperti pulp dan kertas, hingga riset dan konsultansi. Hal ini membuka peluang besar bagi lulusan kehutanan Indonesia untuk berkarier secara global.

    Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dipersiapkan, antara lain kemampuan bahasa Jepang (minimal JLPT N2/N1), kemampuan komunikasi, serta adaptasi terhadap budaya kerja Jepang yang dikenal disiplin dan terstruktur.

    Jalur Specified Skilled Worker (SSW): Peluang Alternatif

    Sementara itu, Imaduddin menjelaskan tentang program Tokutei Ginou atau Specified Skilled Worker (SSW) yang mulai diperkenalkan sejak 2019 untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Program ini memberikan peluang bagi tenaga kerja asing untuk bekerja di berbagai sektor, termasuk kehutanan dan industri kayu.

    Program SSW terbagi menjadi dua kategori, yaitu:

    • SSW Tipe 1: Masa tinggal maksimal 5 tahun tanpa membawa keluarga
    • SSW Tipe 2: Dapat diperpanjang tanpa batas dan memungkinkan membawa keluarga

    Untuk mengikuti program ini, peserta harus memenuhi beberapa persyaratan seperti lulus ujian keterampilan, memiliki kemampuan bahasa Jepang (minimal JLPT N4), serta berusia minimal 18 tahun.

    Imaduddin juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan budaya, termasuk memahami prinsip kerja Jepang seperti hourensou (komunikasi, laporan, dan konsultasi), serta menjaga kedisiplinan dan profesionalisme dalam bekerja.

    Tips Sukses Berkarier di Jepang

    Beberapa poin penting yang dibagikan oleh narasumber sebagai kunci sukses antara lain:

    • Konsisten meningkatkan kemampuan bahasa Jepang
    • Aktif membangun jaringan (networking) melalui alumni dan dosen
    • Memanfaatkan platform pencarian kerja dan career center
    • Memiliki sikap disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab
    • Terbuka terhadap budaya baru dan siap beradaptasi

    Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan

    Kegiatan ini mendapatkan antusiasme yang tinggi, tercatat lebih dari 50 peserta mendaftar dan mengikuti kegiatan secara daring. Diskusi interaktif yang berlangsung menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk mengembangkan karier di tingkat global, khususnya menuju Jepang sebagai salah satu negara dengan sistem industri kehutanan yang maju.

    Melalui kegiatan ini, CDC Forestry UGM berharap dapat terus memfasilitasi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja internasional serta memperluas jejaring profesional lintas negara.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    Sharing Session “Green Future, Green Career” Membangun Semangat Mahasiswa Menuju Karier Kehutanan Berkelanjutan

    Yogyakarta, 16 Oktober 2025 — Career Development Center Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (CDC-Forestry UGM) menyelenggarakan kegiatan Sharing Session bertajuk “Green Future, Green Career: Membangun Masa Depan Berkelanjutan melalui Kehutanan” pada Kamis (16/10) di Selasar Gedung The Integrated Forest Farming Learning Centre (IFFLC) Fakultas Kehutanan UGM.

    Kegiatan ini diikuti secara hybrid, baik luring maupun daring, dan dihadiri oleh mahasiswa dan alumni. Kegiatan ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa tentang peluang karier di bidang kehutanan dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

    Pelatihan menghadirkan lima narasumber inspiratif dari latar belakang yang beragam, yakni:

    • Nurpana Sulaksono – Kasubag TU Taman Nasional Gunung Merbabu,
    • Rendy Agung Firmansyah – CEO PT Trifos Internasional Sertifikasi (TRIC),
    • Wiryawan – Owner MEDJORA Café & Resto,
    • Imam A. El Marzuq – Global Lead Thriving Landscapes, Rainforest Alliance,
    • Ragita Wirastri – Manajer Promosi, Marketing & Komunikasi, Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC).

    Acara dipandu oleh Hermudananto, Ketua CDC-Forestry UGM, yang juga bertindak sebagai moderator. Para narasumber membagikan pengalaman dan pandangan mereka tentang peran penting sektor kehutanan dalam menghadapi tantangan global, termasuk peluang karier di bidang konservasi, sertifikasi, wirausaha hijau, dan lembaga internasional.

    “Mahasiswa kehutanan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam berbagai bidang, tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam inovasi bisnis dan kebijakan berkelanjutan,” ujar Hermudananto dalam sambutannya.

    Kegiatan ini turut dihadiri oleh Hero Marhaento, perwakilan alumni Kehutanan UGM angkatan 2000 (Wanawasa 2000) yang tengah merayakan reuni 25 tahun. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula seremonial penyerahan renovasi ruang CDC-Forestry UGM yang berlokasi di lantai 7 Gedung IFFLC, sebagai bentuk kontribusi alumni untuk mendukung pengembangan kapasitas dan kompetensi generasi muda forester.

    “Renovasi ruang CDC ini merupakan wujud nyata kepedulian alumni terhadap adik-adiknya di Fakultas Kehutanan. Kami berharap ruang ini dapat menjadi pusat pengembangan karier dan inovasi mahasiswa,” ujar Hero Marhaento.

    Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU, memberikan sambutan penutup sekaligus apresiasi yang tinggi kepada alumni Kehutanan UGM angkatan 2000 atas dukungan dan kontribusinya bagi pengembangan kampus.

    “Sinergi antara mahasiswa, alumni, dan fakultas seperti ini adalah modal penting untuk membangun generasi forester yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global,” ujar Dwiko.

    Acara ditutup dengan penyerahan suvenir kepada para narasumber oleh Hairi Cipta, perwakilan CDC-Forestry UGM, serta sesi foto bersama seluruh peserta, narasumber, dan panitia sebagai penanda berakhirnya kegiatan penuh inspirasi ini.

    Melalui kegiatan ini, CDC-Forestry UGM berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk menyiapkan karier di bidang kehutanan yang tidak hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    Persiapan Menuju Magister dan Doktor Kehutanan UGM melalui EPIC Workshop 2026

    Yogyakarta, 08 Mei 2026 – Dalam upaya mendukung pengembangan kapasitas akademik mahasiswa dan lulusan kehutanan yang berencana melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana, International Forestry Students’ Association Local Committee Universitas Gadjah Mada (IFSA LC UGM) berkolaborasi dengan Unit Kerja Pengembangan Karir Fakultas Kehutanan UGM (CDC-Forestry UGM) menyelenggarakan EPIC Workshop 2026 bertajuk “Your Pathway to Forestry Graduate Studies at UGM: Mastering AcEPT & PAPs, Admissions, and Academic Readiness”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 8 Mei 2026 ini menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai proses penerimaan mahasiswa pascasarjana UGM, strategi menghadapi AcEPT dan PAPs, serta persiapan akademik yang diperlukan untuk menempuh pendidikan magister dan doktoral. Workshop ini menjadi wadah yang bermanfaat bagi peserta dalam merencanakan langkah studi lanjut secara lebih terarah dan matang.

    Gambar 1. Sesi pembukaan.

    Sesi pembukaan terdiri atas empat rangkaian utama dan secara resmi dimulai pada pukul 08.00 WIB, dipandu oleh Master of Ceremony (MC). Kegiatan diawali dengan sambutan dari Project Officer, Radityas Pradnya P., yang menyampaikan tujuan pelaksanaan acara sekaligus menekankan pentingnya persiapan akademik dan administratif bagi calon mahasiswa pascasarjana dimana sekitar 50 peserta yang hadir secara daring berpartisipasi dalam kegiatan workshop ini.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan CDC, Dr. Hairi Cipta, S.Hut., M.Agr., yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop ini serta harapan agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang bermakna bagi seluruh peserta. Selanjutnya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU., turut memberikan sambutan dengan menekankan pentingnya mengikuti workshop sebagai sarana untuk memahami lebih dalam proses penerimaan program magister (S2) dan doktoral (S3) khususnya di Fakultas Kehutanan UGM.

    Beliau juga menjelaskan pentingnya AcEPT dalam mendukung pengembangan akademik dan profesional, serta peran PAPs dalam mempersiapkan mahasiswa untuk melanjutkan studi pascasarjana. Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan workshop ini secara optimal sebagai langkah awal dalam melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada.

    Gambar 2. Sesi pertama, Master’s Degree Application Process and octoral Degree Application Process.

    Sesi pertama bertajuk Master’s Degree Application Process and Doctoral Degree Application Process dilaksanakan pada pukul 08.20–09.20 WIB dan diikuti oleh seluruh peserta. Sesi ini menghadirkan Emma Soraya, S.Hut., M.For., Ph.D., IPU sebagai pemateri mengenai proses pendaftaran program magister (S2) serta Prof. Ir. Eny Faridah, M.Sc., Ph.D., IPM sebagai pemateri mengenai proses pendaftaran program doktoral (S3).

    Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai proses penerimaan mahasiswa pascasarjana di UGM, meliputi persyaratan administrasi, prosedur seleksi, mekanisme pengumpulan dokumen, hingga tahapan akhir registrasi mahasiswa. Selain itu, kedua pemateri juga menyoroti berbagai aspek teknis penting yang perlu diperhatikan oleh calon pendaftar agar proses pendaftaran dapat berjalan lancar dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dokumentasi sesi pleno pertama ini disajikan pada Gambar 2.

    Gambar 3. Sesi ke-2, AcEPT: What is AcEPT?

    Workshop dilanjutkan dengan sesi kedua yang berlangsung pada pukul 09.30–11.30 WIB dan berfokus pada AcEPT (Academic English Proficiency Test), yang disampaikan oleh Novi Wulandari, S.S.,M.A. dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Pada sesi ini, peserta memperoleh pengenalan komprehensif mengenai struktur dan aspek teknis ujian AcEPT, meliputi format tes, jenis soal yang umum diujikan, serta strategi efektif dalam menjawab soal.

      Selain itu, pemateri juga membagikan berbagai tips dan metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris akademik peserta sebagai persiapan melanjutkan studi pascasarjana. Untuk memperdalam pemahaman peserta, sesi ini turut dilengkapi dengan diskusi interaktif dan tanya jawab, sehingga peserta dapat berkonsultasi secara langsung mengenai strategi belajar dan teknik persiapan menghadapi ujian AcEPT.

    Gambar 4. Sesi tiga, PAPs (Preparation, Technical Skills, and Question Review)

    Pada pukul 13.30–15.30 WIB, sesi ketiga mengenai PAPs (Graduate Academic Potential Test) dilaksanakan dengan materi yang disampaikan oleh Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. dari Fakultas Psikologi UGM. Sesi ini memberikan gambaran umum kepada peserta mengenai ujian PAPs, meliputi metode persiapan, strategi efektif dalam menyelesaikan soal, serta pembahasan contoh-contoh soal yang umum dijumpai dalam ujian. Selain pemaparan materi, peserta juga terlibat aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab secara langsung, sehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendekatan yang efektif dalam menjawab soal PAPs serta mempersiapkan diri menghadapi proses ujian.

    Gambar 5. Sesi empat, Quiz and Evaluation

    Pada pukul 15.30–15.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuis interaktif yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC) bersama pemateri AcEPT, Novi Wulandari, M.A. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta sekaligus mengevaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan selama rangkaian workshop.

    Selanjutnya, pada pukul 15.50–15.55 WIB, peserta diminta untuk mengisi formulir evaluasi terkait pelaksanaan EPIC Workshop & Test. Evaluasi ini bertujuan untuk memperoleh umpan balik serta mengukur tingkat kepuasan peserta, yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program serupa di masa mendatang.

    Pada pukul 15.55–16.00 WIB, EPIC Workshop secara resmi ditutup oleh Master of Ceremony (MC), yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemateri, peserta, sponsor, serta panitia atas kontribusi dan dukungan selama kegiatan berlangsung. Dalam sesi penutupan, peserta juga memperoleh informasi penting mengenai pelaksanaan serta prosedur administratif ujian AcEPT dan PAPs. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bagian dari dokumentasi pelaksanaan workshop.

    Melalui rangkaian sesi yang informatif dan interaktif, EPIC Workshop 2026 berhasil memberikan wawasan, motivasi, serta bekal praktis bagi peserta yang bercita-cita melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini tidak hanya membantu peserta memahami proses seleksi dan persyaratan akademik, tetapi juga mendorong mereka untuk mempersiapkan diri secara lebih optimal dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi. Sejalan dengan komitmen dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia yang unggul, EPIC Workshop 2026 turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas dan penguatan kapasitas akademik generasi muda. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan untuk mendukung lahirnya calon-calon akademisi, peneliti, dan profesional kehutanan yang kompeten serta berdaya saing global.

    Penulis:

    Radityas Pradnya Prabawatirta

    Hermudananto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *