Menimba Ilmu di DLHK DIY: Cerita Magang Mahasiswa Kehutanan UGM dalam Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan

Yogyakarta,  07 April 2026 – Magang mahasiswa merupakan kegiatan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas praktik kerja di lapangan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung di instansi yang dituju. Kegiatan magang mahasiswa dilaksanakan di DLHK DIY selama satu bulan, mulai 5 Januari hingga 5 Februari 2026, atas dukungan Career Development Center (CDC) Forestry UGM yang berperan dalam memfasilitasi pengembangan karier dan peningkatan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program, salah satunya magang mandiri. Empat mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM ditempatkan pada dua bidang berbeda yang saling melengkapi, yaitu Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan yang diikuti oleh Syahla Yasmine Nabila dan Wanda Illyasa Rizqi serta Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan yang diikuti oleh Najla Kamilah Salim dan Pinto Tungga Muhammad. Keterlibatan di kedua bidang memberikan gambaran utuh tentang tata kelola kehutanan dari aspek pemberdayaan masyarakat hingga administrasi peredaran hasil hutan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY) adalah instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya hutan di Provinsi DIY. Dinas ini menjalankan fungsi strategis dalam merumuskan kebijakan perlindungan lingkungan, rehabilitasi lahan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. DLHK DIY juga berperan sebagai fasilitator dan pengawas bagi kelompok tani hutan, penyuluh kehutanan, dan pelaku industri hasil hutan agar pemanfaatan sumber daya hutan berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan. Dalam perkembangannya, dinas ini aktif mendorong inovasi melalui program perhutanan sosial, pengembangan hasil hutan non-kayu, dan digitalisasi penatausahaan kayu rakyat demi terwujudnya pembangunan kehutanan yang modern dan akuntabel. Pada Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan, mahasiswa magang berkesempatan mengikuti empat kegiatan utama, yaitu Bimbingan Teknis PKSM Gunungkidul, Rakorluh Tingkat Provinsi DIY 2026, Bimbingan Teknis PKSM Bantul, dan Bimbingan Teknis KTH Sido Rahayu. Dari Bimtek PKSM Gunungkidul, mahasiswa memperoleh pemahaman nyata tentang pengelolaan hutan tanaman rakyat melalui sistem tumpangsari berbasis MPTS dengan komoditas unggulan kopi, alpukat, kemiri, dan petai yang bernilai ekonomi sekaligus ekologis. Melalui Rakorluh yang berkolaborasi dengan BP2SDM Kementerian Kehutanan, mahasiswa mendapat wawasan tentang tantangan nyata peran penyuluhan kehutanan di lapangan, termasuk pentingnya pencatatan dan analisis Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) sebagai indikator kinerja di mana DIY sendiri menempati peringkat ke-8 nasional dengan NTE mencapai Rp11,2 miliar. Bimtek PKSM Bantul membuka perspektif mahasiswa bahwa diversifikasi hutan rakyat menjadi agrowisata terpadu, seperti yang dicontohkan Wanadelima Orchard, mampu menciptakan multi-income secara berkelanjutan. Adapun Bimtek KTH Sido Rahayu yang berkolaborasi dengan BPDAS Opak Serayu mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya rehabilitasi lahan kritis melalui penghijauan, konservasi tanah, dan penguatan kelembagaan kelompok tani sebagai fondasi keberlanjutan hutan rakyat. Dari keseluruhan kegiatan tersebut, mahasiswa menyadari bahwa kerja penyuluhan kehutanan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses panjang membangun kepercayaan, mengubah perilaku, dan menghidupkan harapan di tengah masyarakat tani hutan yang selama ini menjadi garda terdepan penjaga kelestarian hutan.

Pada Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan, mahasiswa magang terlibat langsung dalam tiga kegiatan utama yang memberikan pengalaman teknis berharga, yaitu Stock Opname dan Monitoring Industri, Penilaian Hasil Inventarisasi HKm Sedyo Makmur, dan Sosialisasi SIKARYO. Melalui kegiatan stock opname di sejumlah industri pengolahan kayu di DIY, mahasiswa belajar menginput dan mengolah data stok kayu bulanan 2025 ke dalam spreadsheet terstruktur sebagai bagian dari persyaratan RPBBI, sekaligus menghasilkan Berita Acara kondisi stok kayu per perusahaan. Kegiatan penilaian inventarisasi tegakan jati di HKm Sedyo Makmur melatih mahasiswa dalam menerapkan inventarisasi di lapangan, dan dari sini mahasiswa memahami bahwa jika terdapat perbedaan signifikan antara volume LHC dan hasil penilaian aktual, maka dapat berdampak besar pada pengambilan keputusan, sehingga verifikasi data lapangan menjadi sangat krusial. Sosialisasi Sistem Informasi Kayu Rakyat Yogyakarta (SIKARYO) yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan tentang penatausahaan kayu rakyat secara tertib dan transparan melalui sistem berbasis web. Kegiatan ini memperkenalkan SIKARYO sebagai sistem untuk pencatatan, pelaporan, dan pelacakan asal usul kayu, dengan output utama berupa Surat Angkutan Kayu Rakyat (SAKR). Efektivitas sosialisasi diukur melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Pengalaman ini menegaskan kepada mahasiswa bahwa di balik selembar dokumen angkutan kayu, terdapat sistem panjang yang menuntut ketelitian, integritas data, dan komitmen bersama. Peran mahasiswa kehutanan kelak bukan hanya di hutan, tetapi juga dalam memastikan setiap pohon yang ditebang tercatat, legal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Magang di DLHK DIY membuktikan bahwa pembangunan kehutanan yang efektif memerlukan keterpaduan antara penguatan sosial-kelembagaan dan ketertiban administrasi hasil hutan. Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan menegaskan peran strategis penyuluh dan inovasi agribisnis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani hutan, sedangkan Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan mempertegas pentingnya verifikasi data, kepatuhan hukum, dan adaptasi dengan teknologi digital dalam pengawasan kayu rakyat. Kedua bidang terbukti saling melengkapi dan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam memasuki dunia kerja kehutanan. 

Penulis: Syahla Yasmine Nabila, Wanda Illyasa Rizqi, Najla Kamilah Salim, Pinto Tungga Muhammad

Similar Posts

  • | |

    Kuliah Umum Fakultas Kehutanan UGM Bahas Masa Depan Hutan Adat dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan

    Yogyakarta, 13 Agustus 2026 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Kuliah Umum yang menghadirkan dua narasumber dari unsur pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM ini mengangkat isu strategis mengenai hutan adat, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, serta pendekatan bentang alam terpadu (Integrated Landscape Approach).
    Kegiatan kuliah umum dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan KemahasiswaanFakultas Kehutanan UGM, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya mahasiswa memperoleh wawasan langsung dari para praktisi dan pemangku kebijakan mengenai dinamika pengelolaan hutan, khususnya terkait hutan adat, masyarakat, kebijakan kehutanan, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
    Kehadiran dua narasumber dari unsur pemerintah dan NGO diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif kepada mahasiswa mengenai hubungan antara kebijakan, praktik pengelolaan di tingkat tapak, serta kebutuhan kolaborasi dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
    Kuliah umum diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM dari jenjang S1, S2, S3, dan Insinyur. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara kebijakan kehutanan, praktik pengelolaan di tingkat tapak, masyarakat, serta keberlanjutan ekosistem.

    Memahami Masa Depan Hutan Adat: Antara Praktik dan Kebijakan

    Sesi pertama menghadirkan Julmansyah, S.Hut., M.A.P., Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan RI. Materi yang disampaikan bertajuk “Menatap Masa Depan Hutan Adat: Antara Praktik dan Kebijakan.”
    Dalam paparannya, dijelaskan bahwa hutan adat adalah hutan yang berada di wilayah masyarakat hukum adat (MHA). Penetapan hutan adat memiliki tujuan penting, antara lain menjamin ruang hidup masyarakat hukum adat, melestarikan ekosistem, melindungi kearifan lokal dan pengetahuan tradisional, serta menjadi salah satu instrumen dalam penyelesaian konflik yang berkaitan dengan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan.
    Pembahasan juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Proses penetapan hutan adat membutuhkan kepastian hukum mengenai subjek masyarakat hukum adat, identifikasi dan verifikasi wilayah adat, serta dukungan produk hukum daerah.
    Hingga Juli 2026, materi mencatat telah terdapat 174 unit hutan adat dengan luas sekitar 368.877 hektare, yang memberikan manfaat kepada sekitar 92.955 kepala keluarga.
    Paparan tersebut memberikan perspektif kepada mahasiswa bahwa pengelolaan hutan adat tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologis, tetapi juga menyangkut kepastian hak, tata kelola, kelembagaan, kebijakan, dan hubungan antara masyarakat dengan negara.

    Peran NGO dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan

    Sesi kedua menghadirkan Dr. Edi Purwanto, Direktur Tropenbos Indonesia, dengan materi “Peran NGO dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan: Pembelajaran dari Tropenbos Indonesia di Kalimantan Barat melalui pendekatan Integrated Landscape Approach.”
    Dr. Edi menjelaskan bahwa Integrated Landscape Approach (ILA) merupakan pendekatan pengelolaan bentang alam yang berupaya menyeimbangkan kebutuhan konservasi, produksi, dan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi multipihak, koordinasi lintas sektor, dan pengelolaan sumber daya alam secara terpadu. Pendekatan ini bertumpu pada tiga pilar, yaitu kepastian hak dan tata kelola, lanskap yang tangguh, serta ekonomi regeneratif.
    Dalam konteks tersebut, NGO memiliki peran sebagai fasilitator, penghubung pengetahuan, serta katalis kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan mitra pembangunan. Pengalaman Tropenbos Indonesia di Kalimantan Barat menunjukkan penerapan pendekatan tersebut melalui berbagai program, antara lain perhutanan sosial, konservasi berbasis masyarakat, perlindungan koridor orangutan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, tata kelola gambut, sawit berkelanjutan, dan agroforestri.
    Salah satu pembelajaran penting yang disampaikan adalah bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak dapat dilakukan secara sektoral. Persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi saling berkaitan sehingga membutuhkan pendekatan terpadu pada tingkat bentang alam. Keberlanjutan juga tidak hanya bergantung pada konservasi hutan, tetapi juga pada penguatan hak masyarakat, pemeliharaan fungsi ekosistem, pengembangan ekonomi lokal, dan kolaborasi multipihak.

    Membekali Calon Rimbawan dengan Perspektif Lintas Sektor

    Kegiatan ini memberikan pembelajaran penting bagi mahasiswa kehutanan bahwa tantangan pengelolaan hutan di masa depan membutuhkan kompetensi yang lebih luas daripada aspek teknis kehutanan semata. Calon rimbawan perlu memahami kebijakan, aspek sosial dan tenurial, pengelolaan bentang alam, pengembangan ekonomi masyarakat, serta kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
    Melalui kuliah umum ini, mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai beragam peluang kontribusi profesional di bidang kehutanan, baik di pemerintahan, NGO, lembaga pembangunan, masyarakat, maupun sektor swasta.
    Bagi Career Development Center (CDC-Forestry) UGM, kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai dunia profesional kehutanan sekaligus memperkenalkan kompetensi dan peran yang dibutuhkan dalam menghadapi transformasi pengelolaan hutan dan sumber daya alam.
    Kuliah umum ini menegaskan bahwa masa depan kehutanan membutuhkan rimbawan yang mampu bekerja lintas sektor dan membangun kolaborasi. Pengelolaan hutan yang berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga hutan, tetapi juga memastikan hak masyarakat, kesehatan ekosistem, dan kesejahteraan dapat berjalan secara seimbang dalam satu kesatuan bentang alam.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    Persiapan Menuju Magister dan Doktor Kehutanan UGM melalui EPIC Workshop 2026

    Yogyakarta, 08 Mei 2026 – Dalam upaya mendukung pengembangan kapasitas akademik mahasiswa dan lulusan kehutanan yang berencana melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana, International Forestry Students’ Association Local Committee Universitas Gadjah Mada (IFSA LC UGM) berkolaborasi dengan Unit Kerja Pengembangan Karir Fakultas Kehutanan UGM (CDC-Forestry UGM) menyelenggarakan EPIC Workshop 2026 bertajuk “Your Pathway to Forestry Graduate Studies at UGM: Mastering AcEPT & PAPs, Admissions, and Academic Readiness”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 8 Mei 2026 ini menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai proses penerimaan mahasiswa pascasarjana UGM, strategi menghadapi AcEPT dan PAPs, serta persiapan akademik yang diperlukan untuk menempuh pendidikan magister dan doktoral. Workshop ini menjadi wadah yang bermanfaat bagi peserta dalam merencanakan langkah studi lanjut secara lebih terarah dan matang.

    Gambar 1. Sesi pembukaan.

    Sesi pembukaan terdiri atas empat rangkaian utama dan secara resmi dimulai pada pukul 08.00 WIB, dipandu oleh Master of Ceremony (MC). Kegiatan diawali dengan sambutan dari Project Officer, Radityas Pradnya P., yang menyampaikan tujuan pelaksanaan acara sekaligus menekankan pentingnya persiapan akademik dan administratif bagi calon mahasiswa pascasarjana dimana sekitar 50 peserta yang hadir secara daring berpartisipasi dalam kegiatan workshop ini.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan CDC, Dr. Hairi Cipta, S.Hut., M.Agr., yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop ini serta harapan agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang bermakna bagi seluruh peserta. Selanjutnya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU., turut memberikan sambutan dengan menekankan pentingnya mengikuti workshop sebagai sarana untuk memahami lebih dalam proses penerimaan program magister (S2) dan doktoral (S3) khususnya di Fakultas Kehutanan UGM.

    Beliau juga menjelaskan pentingnya AcEPT dalam mendukung pengembangan akademik dan profesional, serta peran PAPs dalam mempersiapkan mahasiswa untuk melanjutkan studi pascasarjana. Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan workshop ini secara optimal sebagai langkah awal dalam melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada.

    Gambar 2. Sesi pertama, Master’s Degree Application Process and octoral Degree Application Process.

    Sesi pertama bertajuk Master’s Degree Application Process and Doctoral Degree Application Process dilaksanakan pada pukul 08.20–09.20 WIB dan diikuti oleh seluruh peserta. Sesi ini menghadirkan Emma Soraya, S.Hut., M.For., Ph.D., IPU sebagai pemateri mengenai proses pendaftaran program magister (S2) serta Prof. Ir. Eny Faridah, M.Sc., Ph.D., IPM sebagai pemateri mengenai proses pendaftaran program doktoral (S3).

    Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai proses penerimaan mahasiswa pascasarjana di UGM, meliputi persyaratan administrasi, prosedur seleksi, mekanisme pengumpulan dokumen, hingga tahapan akhir registrasi mahasiswa. Selain itu, kedua pemateri juga menyoroti berbagai aspek teknis penting yang perlu diperhatikan oleh calon pendaftar agar proses pendaftaran dapat berjalan lancar dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dokumentasi sesi pleno pertama ini disajikan pada Gambar 2.

    Gambar 3. Sesi ke-2, AcEPT: What is AcEPT?

    Workshop dilanjutkan dengan sesi kedua yang berlangsung pada pukul 09.30–11.30 WIB dan berfokus pada AcEPT (Academic English Proficiency Test), yang disampaikan oleh Novi Wulandari, S.S.,M.A. dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Pada sesi ini, peserta memperoleh pengenalan komprehensif mengenai struktur dan aspek teknis ujian AcEPT, meliputi format tes, jenis soal yang umum diujikan, serta strategi efektif dalam menjawab soal.

      Selain itu, pemateri juga membagikan berbagai tips dan metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris akademik peserta sebagai persiapan melanjutkan studi pascasarjana. Untuk memperdalam pemahaman peserta, sesi ini turut dilengkapi dengan diskusi interaktif dan tanya jawab, sehingga peserta dapat berkonsultasi secara langsung mengenai strategi belajar dan teknik persiapan menghadapi ujian AcEPT.

    Gambar 4. Sesi tiga, PAPs (Preparation, Technical Skills, and Question Review)

    Pada pukul 13.30–15.30 WIB, sesi ketiga mengenai PAPs (Graduate Academic Potential Test) dilaksanakan dengan materi yang disampaikan oleh Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. dari Fakultas Psikologi UGM. Sesi ini memberikan gambaran umum kepada peserta mengenai ujian PAPs, meliputi metode persiapan, strategi efektif dalam menyelesaikan soal, serta pembahasan contoh-contoh soal yang umum dijumpai dalam ujian. Selain pemaparan materi, peserta juga terlibat aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab secara langsung, sehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendekatan yang efektif dalam menjawab soal PAPs serta mempersiapkan diri menghadapi proses ujian.

    Gambar 5. Sesi empat, Quiz and Evaluation

    Pada pukul 15.30–15.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuis interaktif yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC) bersama pemateri AcEPT, Novi Wulandari, M.A. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta sekaligus mengevaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan selama rangkaian workshop.

    Selanjutnya, pada pukul 15.50–15.55 WIB, peserta diminta untuk mengisi formulir evaluasi terkait pelaksanaan EPIC Workshop & Test. Evaluasi ini bertujuan untuk memperoleh umpan balik serta mengukur tingkat kepuasan peserta, yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program serupa di masa mendatang.

    Pada pukul 15.55–16.00 WIB, EPIC Workshop secara resmi ditutup oleh Master of Ceremony (MC), yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemateri, peserta, sponsor, serta panitia atas kontribusi dan dukungan selama kegiatan berlangsung. Dalam sesi penutupan, peserta juga memperoleh informasi penting mengenai pelaksanaan serta prosedur administratif ujian AcEPT dan PAPs. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bagian dari dokumentasi pelaksanaan workshop.

    Melalui rangkaian sesi yang informatif dan interaktif, EPIC Workshop 2026 berhasil memberikan wawasan, motivasi, serta bekal praktis bagi peserta yang bercita-cita melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini tidak hanya membantu peserta memahami proses seleksi dan persyaratan akademik, tetapi juga mendorong mereka untuk mempersiapkan diri secara lebih optimal dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi. Sejalan dengan komitmen dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia yang unggul, EPIC Workshop 2026 turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas dan penguatan kapasitas akademik generasi muda. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan untuk mendukung lahirnya calon-calon akademisi, peneliti, dan profesional kehutanan yang kompeten serta berdaya saing global.

    Penulis:

    Radityas Pradnya Prabawatirta

    Hermudananto

  • |

    Pelatihan Sistem Manajemen Mutu SNI ISO 9001:2015 Bekali Mahasiswa dengan Kompetensi Dunia Kerja

    Yogyakarta, 22 April 2025 – Career Development Center Fakultas Kehutanan UGM (CDC-Forestry UGM) kembali mengadakan kegiatan pengembangan kapasitas mahasiswa melalui Pelatihan Sistem Manajemen Mutu SNI ISO 9001:2015, yang dilaksanakan di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM pada Selasa, 22 April 2025. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi dengan MUTU Institute sebagai mitra pelaksana.
    Pelatihan menghadirkan narasumber Wahyu Riyadi, S.Si., M.M., yang memberikan materi komprehensif mengenai prinsip-prinsip Sistem Manajemen Mutu, termasuk penerapan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan pentingnya dokumentasi sistem sesuai standar SNI ISO 9001:2015.

    Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 102 peserta yang mendaftar. Setelah dilakukan evaluasi melalui form umpan balik, sebanyak 68 peserta dinyatakan berhak menerima sertifikat partisipasi.
    Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan pemahaman dasar mengenai sistem manajemen mutu yang sangat relevan dengan kebutuhan di dunia kerja, terutama dalam menunjang daya saing lulusan di lingkungan profesional dan industri. Diharapkan kegiatan ini menjadi bekal awal mahasiswa untuk menghadapi tantangan manajerial di masa depan.

    Penulis : Hermudananto
    Dokumentasi : Tim CDC Forestry

  • |

    CDC-Forestry UGM Gelar Sharing Session “Explore Your Global Academic Journey”, Hadirkan Pengalaman Studi di Thailand dan Jepang

    Yogyakarta, 9 Juli 2026 – Career Development Center (CDC) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (CDC-Forestry UGM) kembali menyelenggarakan kegiatan pengembangan kapasitas mahasiswa melalui Sharing Session: Explore Your Global Academic Journey – Pengalaman Studi di Thailand & Jepang pada Kamis (9/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring pukul 13.00–15.00 WIB ini diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari mahasiswa dan alumni yang berminat melanjutkan studi ke luar negeri.

    Acara dibuka oleh moderator, Farah, yang mengawali sesi dengan memperkenalkan tujuan kegiatan serta para narasumber. Selanjutnya, Ketua CDC-Forestry UGM, Hermudananto, menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, Hermudananto menekankan bahwa kegiatan sharing session ini merupakan salah satu upaya CDC-Forestry UGM untuk memberikan inspirasi sekaligus motivasi kepada mahasiswa dalam mempersiapkan studi lanjut di luar negeri. Menurutnya, selain prestasi akademik, mahasiswa juga perlu memahami berbagai peluang, tantangan, serta strategi untuk mempersiapkan diri sebelum menempuh pendidikan di negara tujuan.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai kehidupan akademik maupun non-akademik selama studi di luar negeri. Pengalaman langsung dari para narasumber diharapkan dapat membantu mahasiswa menyusun rencana studi yang lebih matang sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk mengejar kesempatan belajar di tingkat internasional,” ujar Hermudananto.

    Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh wawasan dari dua narasumber yang merupakan dosen Fakultas Kehutanan UGM dengan pengalaman studi internasional.

    Narasumber pertama, Dr. Alnus Meinata, dosen dan peneliti di Laboratorium Pemuliaan Pohon dan Dendrologi, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di University of Tsukuba, Jepang. Alnus memiliki kepakaran di bidang dendrologi, konservasi spesies berkayu, genetika, serta pemuliaan pohon, dengan fokus penelitian terkini pada pemanfaatan machine learning untuk pemuliaan jati dalam menghadapi perubahan iklim global. Selain aktif melakukan penelitian, ia juga terlibat dalam berbagai proyek biodiversitas sebagai ahli flora.

    Dalam pemaparannya, Alnus menjelaskan berbagai alasan mengapa studi ke luar negeri menjadi investasi penting bagi pengembangan karier akademik maupun profesional. Ia menekankan bahwa studi di luar negeri memberikan kesempatan untuk mengakses fasilitas riset berkelas dunia, membangun jejaring internasional, memperluas perspektif lintas disiplin ilmu, serta mengembangkan kemampuan adaptasi dan kepemimpinan. Selain itu, ia juga berbagi informasi mengenai berbagai pilihan beasiswa, peluang pendanaan dari universitas, serta alternatif pembiayaan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa internasional. Ia juga mengajak peserta untuk tidak ragu mengejar kesempatan studi ke luar negeri karena tersedia berbagai skema beasiswa dan peluang kerja paruh waktu yang dapat membantu pembiayaan selama studi.

    Sementara itu, narasumber kedua, Annisa Primaningtyas, S.T., M.Eng., dosen Laboratorium Rekayasa Biomaterial, Departemen Teknologi Hasil Hutan, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand. Annisa merupakan lulusan Program Sarjana dan Magister Teknik Kimia UGM dengan bidang penelitian yang berfokus pada keberlanjutan hasil hutan.

    Dalam sesinya, Annisa memberikan gambaran mengenai berbagai peluang studi di Thailand, mulai dari sistem pendidikan pascasarjana, biaya hidup yang relatif terjangkau, hingga beragam pilihan beasiswa dari pemerintah, universitas, maupun lembaga internasional. Ia juga membagikan langkah-langkah praktis untuk mencari calon pembimbing (advisor), menyusun dokumen aplikasi, serta mempersiapkan proses seleksi beasiswa. Tidak hanya membahas aspek akademik, Annisa juga mengulas berbagai tantangan non-akademik yang umum dihadapi mahasiswa internasional, seperti adaptasi budaya, bahasa, makanan, hingga mengatasi homesick. Menurutnya, persiapan yang matang dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberhasilan selama menjalani studi di luar negeri.

    Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai strategi memperoleh beasiswa, tips menghubungi calon pembimbing, persiapan kemampuan bahasa Inggris, hingga pengalaman beradaptasi dengan lingkungan akademik dan kehidupan sehari-hari di Jepang maupun Thailand.

    Melalui kegiatan ini, CDC-Forestry UGM berharap semakin banyak mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM yang memiliki keberanian untuk merencanakan studi lanjut di luar negeri serta mampu mempersiapkan diri secara akademik maupun non-akademik sejak dini. Sharing session ini juga menjadi bagian dari komitmen CDC-Forestry UGM dalam mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa serta memperluas akses terhadap peluang pendidikan internasional.

    Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh narasumber, moderator, dan peserta sebagai penutup rangkaian acara.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    CDC Forestry UGM Gelar Pelatihan “Carbon & Green Career” Bersama Form International

    Yogyakarta, 26 September 2025 – Career Development Center (CDC) Forestry UGM bersama Form International sukses menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Carbon & Green Career: Tren Global dan Peluang Karier di Sektor Kehutanan Hijau” pada Jumat, 26 September 2025 di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM.

    Pelatihan ini menghadirkan Nistia Sekar Ningati, Indonesia Country Director Form International, sebagai narasumber utama. Dalam sesi berdurasi dua jam (14.00–16.00 WIB), beliau berbagi wawasan mengenai tren global kehutanan berkelanjutan, peluang kerja, dan strategi membangun karier di sektor kehutanan hijau.

    Kegiatan ini disambut antusias oleh mahasiswa. Tercatat lebih dari 50 peserta hadir dan aktif berdiskusi, menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap isu dan profesi di bidang karbon dan kehutanan berkelanjutan.

    Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja, khususnya pada sektor kehutanan yang terus berkembang mengikuti agenda global pembangunan berkelanjutan.

    Peserta yang belum sempat mendaftar diharapkan untuk mengikuti kegiatan serupa berikutnya melalui laman resmi dan media sosial CDC Forestry UGM.

    Penulis: Hermudananto

  • Siapkan Karier Global Mahasiswa, CDC- Forestry UGM Gelar Short Course “Japanese for Workplace Readiness”

    Yogyakarta, 27 Februari 2026 – Dalam upaya mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa, CDC-Forestry UGM menyelenggarakan program Short Course “Japanese for Workplace Readiness”, sebuah program pelatihan bahasa dan budaya kerja Jepang yang dirancang khusus bagi mahasiswa S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Program ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar bahasa Jepang serta pemahaman mengenai etika dan kesiapan kerja di lingkungan profesional Jepang.

    Kegiatan ini menghadirkan dua tutor yang memiliki pengalaman akademik dan internasional, yaitu Tomoha Onuma dari Kyushu University serta Annisa Diva Rahmawati dari Fakultas Kehutanan UGM. Melalui sesi pembelajaran yang interaktif, peserta akan mendapatkan pengenalan bahasa Jepang praktis yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di tempat kerja, sekaligus pemahaman mengenai budaya profesional di Jepang.

    Program short course ini dilaksanakan setiap hari Jumat selama tiga bulan, yaitu pada periode Februari hingga April 2026 (kecuali hari libur nasional). Pertemuan perdana dilaksanakan pada 27 Februari 2026 pukul 10.00–11.00 WIB bertempat di Ruang Multimedia Fakultas Kehutanan UGM. Seluruh peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan secara lengkap akan memperoleh e-certificate sebagai bentuk pengakuan atas partisipasi mereka dalam program ini.

    Sebagai program pengembangan karier yang bersifat eksklusif, kegiatan ini memiliki kuota terbatas hanya untuk 25 mahasiswa S1 Fakultas Kehutanan UGM. Untuk mengikuti program ini, peserta diwajibkan melampirkan surat motivasi serta komitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.

    Melalui penyelenggaraan program ini, CDC Forestry UGM berharap mahasiswa tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa asing, tetapi juga memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkarier di tingkat internasional, khususnya di Jepang. Program ini juga menjadi bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam memperluas peluang karier global bagi mahasiswa kehutanan serta memperkuat jejaring akademik dan profesional dengan institusi internasional.

    Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat mulai mempersiapkan langkah menuju karier global serta membuka peluang berkontribusi dalam sektor kehutanan di tingkat internasional.

    Penulis: Hermudananto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *