|

Persiapan Menuju Magister dan Doktor Kehutanan UGM melalui EPIC Workshop 2026

Yogyakarta, 08 Mei 2026 – Dalam upaya mendukung pengembangan kapasitas akademik mahasiswa dan lulusan kehutanan yang berencana melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana, International Forestry Students’ Association Local Committee Universitas Gadjah Mada (IFSA LC UGM) berkolaborasi dengan Unit Kerja Pengembangan Karir Fakultas Kehutanan UGM (CDC-Forestry UGM) menyelenggarakan EPIC Workshop 2026 bertajuk “Your Pathway to Forestry Graduate Studies at UGM: Mastering AcEPT & PAPs, Admissions, and Academic Readiness”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 8 Mei 2026 ini menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai proses penerimaan mahasiswa pascasarjana UGM, strategi menghadapi AcEPT dan PAPs, serta persiapan akademik yang diperlukan untuk menempuh pendidikan magister dan doktoral. Workshop ini menjadi wadah yang bermanfaat bagi peserta dalam merencanakan langkah studi lanjut secara lebih terarah dan matang.

Gambar 1. Sesi pembukaan.

Sesi pembukaan terdiri atas empat rangkaian utama dan secara resmi dimulai pada pukul 08.00 WIB, dipandu oleh Master of Ceremony (MC). Kegiatan diawali dengan sambutan dari Project Officer, Radityas Pradnya P., yang menyampaikan tujuan pelaksanaan acara sekaligus menekankan pentingnya persiapan akademik dan administratif bagi calon mahasiswa pascasarjana dimana sekitar 50 peserta yang hadir secara daring berpartisipasi dalam kegiatan workshop ini.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan CDC, Dr. Hairi Cipta, S.Hut., M.Agr., yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop ini serta harapan agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang bermakna bagi seluruh peserta. Selanjutnya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU., turut memberikan sambutan dengan menekankan pentingnya mengikuti workshop sebagai sarana untuk memahami lebih dalam proses penerimaan program magister (S2) dan doktoral (S3) khususnya di Fakultas Kehutanan UGM.

Beliau juga menjelaskan pentingnya AcEPT dalam mendukung pengembangan akademik dan profesional, serta peran PAPs dalam mempersiapkan mahasiswa untuk melanjutkan studi pascasarjana. Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan workshop ini secara optimal sebagai langkah awal dalam melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada.

Gambar 2. Sesi pertama, Master’s Degree Application Process and octoral Degree Application Process.

Sesi pertama bertajuk Master’s Degree Application Process and Doctoral Degree Application Process dilaksanakan pada pukul 08.20–09.20 WIB dan diikuti oleh seluruh peserta. Sesi ini menghadirkan Emma Soraya, S.Hut., M.For., Ph.D., IPU sebagai pemateri mengenai proses pendaftaran program magister (S2) serta Prof. Ir. Eny Faridah, M.Sc., Ph.D., IPM sebagai pemateri mengenai proses pendaftaran program doktoral (S3).

Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai proses penerimaan mahasiswa pascasarjana di UGM, meliputi persyaratan administrasi, prosedur seleksi, mekanisme pengumpulan dokumen, hingga tahapan akhir registrasi mahasiswa. Selain itu, kedua pemateri juga menyoroti berbagai aspek teknis penting yang perlu diperhatikan oleh calon pendaftar agar proses pendaftaran dapat berjalan lancar dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dokumentasi sesi pleno pertama ini disajikan pada Gambar 2.

Gambar 3. Sesi ke-2, AcEPT: What is AcEPT?

Workshop dilanjutkan dengan sesi kedua yang berlangsung pada pukul 09.30–11.30 WIB dan berfokus pada AcEPT (Academic English Proficiency Test), yang disampaikan oleh Novi Wulandari, S.S.,M.A. dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Pada sesi ini, peserta memperoleh pengenalan komprehensif mengenai struktur dan aspek teknis ujian AcEPT, meliputi format tes, jenis soal yang umum diujikan, serta strategi efektif dalam menjawab soal.

  Selain itu, pemateri juga membagikan berbagai tips dan metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris akademik peserta sebagai persiapan melanjutkan studi pascasarjana. Untuk memperdalam pemahaman peserta, sesi ini turut dilengkapi dengan diskusi interaktif dan tanya jawab, sehingga peserta dapat berkonsultasi secara langsung mengenai strategi belajar dan teknik persiapan menghadapi ujian AcEPT.

Gambar 4. Sesi tiga, PAPs (Preparation, Technical Skills, and Question Review)

Pada pukul 13.30–15.30 WIB, sesi ketiga mengenai PAPs (Graduate Academic Potential Test) dilaksanakan dengan materi yang disampaikan oleh Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. dari Fakultas Psikologi UGM. Sesi ini memberikan gambaran umum kepada peserta mengenai ujian PAPs, meliputi metode persiapan, strategi efektif dalam menyelesaikan soal, serta pembahasan contoh-contoh soal yang umum dijumpai dalam ujian. Selain pemaparan materi, peserta juga terlibat aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab secara langsung, sehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendekatan yang efektif dalam menjawab soal PAPs serta mempersiapkan diri menghadapi proses ujian.

Gambar 5. Sesi empat, Quiz and Evaluation

Pada pukul 15.30–15.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuis interaktif yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC) bersama pemateri AcEPT, Novi Wulandari, M.A. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta sekaligus mengevaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan selama rangkaian workshop.

Selanjutnya, pada pukul 15.50–15.55 WIB, peserta diminta untuk mengisi formulir evaluasi terkait pelaksanaan EPIC Workshop & Test. Evaluasi ini bertujuan untuk memperoleh umpan balik serta mengukur tingkat kepuasan peserta, yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program serupa di masa mendatang.

Pada pukul 15.55–16.00 WIB, EPIC Workshop secara resmi ditutup oleh Master of Ceremony (MC), yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemateri, peserta, sponsor, serta panitia atas kontribusi dan dukungan selama kegiatan berlangsung. Dalam sesi penutupan, peserta juga memperoleh informasi penting mengenai pelaksanaan serta prosedur administratif ujian AcEPT dan PAPs. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bagian dari dokumentasi pelaksanaan workshop.

Melalui rangkaian sesi yang informatif dan interaktif, EPIC Workshop 2026 berhasil memberikan wawasan, motivasi, serta bekal praktis bagi peserta yang bercita-cita melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini tidak hanya membantu peserta memahami proses seleksi dan persyaratan akademik, tetapi juga mendorong mereka untuk mempersiapkan diri secara lebih optimal dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi. Sejalan dengan komitmen dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia yang unggul, EPIC Workshop 2026 turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas dan penguatan kapasitas akademik generasi muda. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan untuk mendukung lahirnya calon-calon akademisi, peneliti, dan profesional kehutanan yang kompeten serta berdaya saing global.

Penulis:

Radityas Pradnya Prabawatirta

Hermudananto

Similar Posts

  • |

    CDC-Forestry UGM Bersama Kagama HSE Selenggarakan Short Course dan Sharing Session K3 Pertambangan

    Career Development Center Fakultas Kehutanan UGM (CDC-Forestry UGM) bersama Kagama HSE sukses menggelar HSE Short Course and Sharing Session bertema Dasar-Dasar Keselamatan Pertambangan & Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan, serta Manajemen Risiko pada Jumat, 4 Juli 2025. Bertempat di Dome IFFLC Lt. 7 Fakultas Kehutanan UGM, kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber berpengalaman, yaitu Faizal Reza (Corporate Manager HSE System & Audit PT PAM Mineral, Tbk.), Hamzah Subekti (Corporate Superintendent HSE System & Audit PT PAM Mineral), dan Jihan Alfiera (Project Planner).
    Kegiatan ini menjadi wadah interaktif bagi mahasiswa, praktisi, dan pegiat HSE untuk memperdalam pengetahuan, berdiskusi, sekaligus memperluas wawasan mengenai isu-isu terkini seputar kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, khususnya di sektor pertambangan. Peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai prinsip dasar keselamatan pertambangan, penerapan sistem manajemen keselamatan yang menjadi fondasi keberlanjutan operasional, serta strategi manajemen risiko untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan ramah lingkungan.

    Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai sekitar 78 orang. Hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam memahami serta menerapkan prinsip-prinsip HSE di lapangan. Tidak hanya memperkaya wawasan, kegiatan ini juga memperkuat jejaring profesional lintas sektor, menciptakan ruang kolaborasi yang produktif, dan menumbuhkan semangat untuk mengembangkan budaya keselamatan kerja yang lebih kuat di industri.
    Melalui kolaborasi yang solid antara CDC-Forestry UGM dan Kagama HSE, acara ini diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin dan praktisi HSE yang kompeten, berintegritas, serta berkomitmen terhadap penerapan standar keselamatan dan pengelolaan risiko yang berkelanjutan di berbagai sektor industri.


    Penulis: Hermudananto

  • |

    CDC-Forestry UGM Gelar Sharing Session “Explore Your Global Academic Journey”, Hadirkan Pengalaman Studi di Thailand dan Jepang

    Yogyakarta, 9 Juli 2026 – Career Development Center (CDC) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (CDC-Forestry UGM) kembali menyelenggarakan kegiatan pengembangan kapasitas mahasiswa melalui Sharing Session: Explore Your Global Academic Journey – Pengalaman Studi di Thailand & Jepang pada Kamis (9/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring pukul 13.00–15.00 WIB ini diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari mahasiswa dan alumni yang berminat melanjutkan studi ke luar negeri.

    Acara dibuka oleh moderator, Farah, yang mengawali sesi dengan memperkenalkan tujuan kegiatan serta para narasumber. Selanjutnya, Ketua CDC-Forestry UGM, Hermudananto, menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, Hermudananto menekankan bahwa kegiatan sharing session ini merupakan salah satu upaya CDC-Forestry UGM untuk memberikan inspirasi sekaligus motivasi kepada mahasiswa dalam mempersiapkan studi lanjut di luar negeri. Menurutnya, selain prestasi akademik, mahasiswa juga perlu memahami berbagai peluang, tantangan, serta strategi untuk mempersiapkan diri sebelum menempuh pendidikan di negara tujuan.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai kehidupan akademik maupun non-akademik selama studi di luar negeri. Pengalaman langsung dari para narasumber diharapkan dapat membantu mahasiswa menyusun rencana studi yang lebih matang sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk mengejar kesempatan belajar di tingkat internasional,” ujar Hermudananto.

    Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh wawasan dari dua narasumber yang merupakan dosen Fakultas Kehutanan UGM dengan pengalaman studi internasional.

    Narasumber pertama, Dr. Alnus Meinata, dosen dan peneliti di Laboratorium Pemuliaan Pohon dan Dendrologi, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di University of Tsukuba, Jepang. Alnus memiliki kepakaran di bidang dendrologi, konservasi spesies berkayu, genetika, serta pemuliaan pohon, dengan fokus penelitian terkini pada pemanfaatan machine learning untuk pemuliaan jati dalam menghadapi perubahan iklim global. Selain aktif melakukan penelitian, ia juga terlibat dalam berbagai proyek biodiversitas sebagai ahli flora.

    Dalam pemaparannya, Alnus menjelaskan berbagai alasan mengapa studi ke luar negeri menjadi investasi penting bagi pengembangan karier akademik maupun profesional. Ia menekankan bahwa studi di luar negeri memberikan kesempatan untuk mengakses fasilitas riset berkelas dunia, membangun jejaring internasional, memperluas perspektif lintas disiplin ilmu, serta mengembangkan kemampuan adaptasi dan kepemimpinan. Selain itu, ia juga berbagi informasi mengenai berbagai pilihan beasiswa, peluang pendanaan dari universitas, serta alternatif pembiayaan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa internasional. Ia juga mengajak peserta untuk tidak ragu mengejar kesempatan studi ke luar negeri karena tersedia berbagai skema beasiswa dan peluang kerja paruh waktu yang dapat membantu pembiayaan selama studi.

    Sementara itu, narasumber kedua, Annisa Primaningtyas, S.T., M.Eng., dosen Laboratorium Rekayasa Biomaterial, Departemen Teknologi Hasil Hutan, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand. Annisa merupakan lulusan Program Sarjana dan Magister Teknik Kimia UGM dengan bidang penelitian yang berfokus pada keberlanjutan hasil hutan.

    Dalam sesinya, Annisa memberikan gambaran mengenai berbagai peluang studi di Thailand, mulai dari sistem pendidikan pascasarjana, biaya hidup yang relatif terjangkau, hingga beragam pilihan beasiswa dari pemerintah, universitas, maupun lembaga internasional. Ia juga membagikan langkah-langkah praktis untuk mencari calon pembimbing (advisor), menyusun dokumen aplikasi, serta mempersiapkan proses seleksi beasiswa. Tidak hanya membahas aspek akademik, Annisa juga mengulas berbagai tantangan non-akademik yang umum dihadapi mahasiswa internasional, seperti adaptasi budaya, bahasa, makanan, hingga mengatasi homesick. Menurutnya, persiapan yang matang dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberhasilan selama menjalani studi di luar negeri.

    Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai strategi memperoleh beasiswa, tips menghubungi calon pembimbing, persiapan kemampuan bahasa Inggris, hingga pengalaman beradaptasi dengan lingkungan akademik dan kehidupan sehari-hari di Jepang maupun Thailand.

    Melalui kegiatan ini, CDC-Forestry UGM berharap semakin banyak mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM yang memiliki keberanian untuk merencanakan studi lanjut di luar negeri serta mampu mempersiapkan diri secara akademik maupun non-akademik sejak dini. Sharing session ini juga menjadi bagian dari komitmen CDC-Forestry UGM dalam mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa serta memperluas akses terhadap peluang pendidikan internasional.

    Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh narasumber, moderator, dan peserta sebagai penutup rangkaian acara.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    Belajar dari Hutan Rakyat Tersertifikasi Internasional: Dua Mahasiswa Kehutanan UGM Magang di KOSTAJASA

    Yogyakarta, 28 Agustus 2025 – Pada tanggal 7 Juli hingga 2 Agustus 2025, dua mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2022, Naufal Ozora Dika Haris Sutopo (Naufal) dan Muhammad Galuh Ramadhan (Galuh), telah melaksanakan magang mandiri di Koperasi Serba Usaha Taman Wijaya Rasa (KOSTAJASA), Kebumen.

    KOSTAJASA merupakan salah satu koperasi pengelolaan hutan rakyat yang berdiri sejak tahun 2007 dan telah memperoleh sertifikasi FSC sejak 2009. Berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) KOSTAJASA 2025, koperasi ini berperan penting dalam menjaga kelestarian hutan rakyat melalui tata kelola yang berkelanjutan.

    Selama magang, para mahasiswa memperoleh pengalaman langsung terkait pengelolaan hutan rakyat bersertifikasi, meliputi tata usaha kayu, sistem lacak balak, penerapan prinsip-prinsip sertifikasi FSC, serta pengamatan aspek sosial dan lingkungan di kawasan hutan. Selain itu, mereka juga berkesempatan mengikuti kegiatan kebudayaan masyarakat setempat, mencerminkan upaya KOSTAJASA dalam menjaga keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

    Menurut Naufal, magang ini memberikan pengalaman berharga dalam memahami praktik lapangan yang tidak diperoleh sepenuhnya di bangku kuliah: “Magang ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan, karena di kampus lebih banyak teori, sedangkan di lapangan kami bisa melihat penerapannya secara nyata.”
    Senada dengan itu, Galuh menambahkan: “Kegiatan ini membantu saya memahami kehidupan sosial masyarakat di sekitar hutan dan interaksinya dengan lingkungan, termasuk pengamatan kawasan dengan nilai konservasi tinggi.”

    Kegiatan magang ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas mahasiswa kehutanan dalam mengintegrasikan teori dengan praktik, serta menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan hutan rakyat yang lestari dan berkeadilan.
     
    Penulis:
    Naufal Ozora Dika Haris Sutopo (Naufal)
    Muhammad Galuh Ramadhan (Galuh)
    Hermudananto

  • |

    Fakultas Kehutanan UGM Jalin Kerja Sama dengan CarbonEthics untuk Penguatan Kapasitas dan Peluang Magang Mahasiswa

    Yogyakarta, 25 Juli 2025 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menjalin kerja sama dengan CarbonEthics (PT Iklim Muda Sentosa)melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU)pada tanggal 25 Juli 2025. Kerja sama ini meliputi berbagai kegiatan strategis di bidang kehutanan, lingkungan, solusi berbasis alam, serta pembangunan berkelanjutan.

    Ruang lingkup MoU mencakup penyelenggaraan pelatihan, lokakarya, dan program peningkatan kapasitas, pengembangan kurikulum dan materi pelatihan berbasis keilmuan dan praktik terbaik di bidang kehutanan, serta inisiatif kolaboratif lainnya yang disepakati sesuai kebutuhan dan perkembangan keilmuan.

    Selain itu, CarbonEthics juga membuka peluang magang dan penelitian skripsi bagi mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Program magang ini dilaksanakan tiga kali dalam setahun dengan periode Oktober–Februari, Februari–Juni, dan Juni–Oktober, mencakup posisi di bidang community development, ESG (Environmental, Social, and Governance), serta operations and science.

    Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.Agr., Ph.D, IPU. selaku Dekan Fakultas Kehutanan UGM dan Bapak Kievas Cahyadi selaku Sr. People & Organization Manager CarbonEthics, dengan fasilitasi oleh Hermudananto, Ketua CDC-Forestry UGM.

    Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis, meningkatkan kapasitas keilmuan, serta mendorong kontribusi nyata dalam mewujudkan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.

    Penulis: Hermudananto

  • Menimba Ilmu di DLHK DIY: Cerita Magang Mahasiswa Kehutanan UGM dalam Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan

    Yogyakarta,  07 April 2026 – Magang mahasiswa merupakan kegiatan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas praktik kerja di lapangan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung di instansi yang dituju. Kegiatan magang mahasiswa dilaksanakan di DLHK DIY selama satu bulan, mulai 5 Januari hingga 5 Februari 2026, atas dukungan Career Development Center (CDC) Forestry UGM yang berperan dalam memfasilitasi pengembangan karier dan peningkatan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program, salah satunya magang mandiri. Empat mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM ditempatkan pada dua bidang berbeda yang saling melengkapi, yaitu Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan yang diikuti oleh Syahla Yasmine Nabila dan Wanda Illyasa Rizqi serta Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan yang diikuti oleh Najla Kamilah Salim dan Pinto Tungga Muhammad. Keterlibatan di kedua bidang memberikan gambaran utuh tentang tata kelola kehutanan dari aspek pemberdayaan masyarakat hingga administrasi peredaran hasil hutan.

    Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY) adalah instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya hutan di Provinsi DIY. Dinas ini menjalankan fungsi strategis dalam merumuskan kebijakan perlindungan lingkungan, rehabilitasi lahan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. DLHK DIY juga berperan sebagai fasilitator dan pengawas bagi kelompok tani hutan, penyuluh kehutanan, dan pelaku industri hasil hutan agar pemanfaatan sumber daya hutan berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan. Dalam perkembangannya, dinas ini aktif mendorong inovasi melalui program perhutanan sosial, pengembangan hasil hutan non-kayu, dan digitalisasi penatausahaan kayu rakyat demi terwujudnya pembangunan kehutanan yang modern dan akuntabel. Pada Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan, mahasiswa magang berkesempatan mengikuti empat kegiatan utama, yaitu Bimbingan Teknis PKSM Gunungkidul, Rakorluh Tingkat Provinsi DIY 2026, Bimbingan Teknis PKSM Bantul, dan Bimbingan Teknis KTH Sido Rahayu. Dari Bimtek PKSM Gunungkidul, mahasiswa memperoleh pemahaman nyata tentang pengelolaan hutan tanaman rakyat melalui sistem tumpangsari berbasis MPTS dengan komoditas unggulan kopi, alpukat, kemiri, dan petai yang bernilai ekonomi sekaligus ekologis. Melalui Rakorluh yang berkolaborasi dengan BP2SDM Kementerian Kehutanan, mahasiswa mendapat wawasan tentang tantangan nyata peran penyuluhan kehutanan di lapangan, termasuk pentingnya pencatatan dan analisis Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) sebagai indikator kinerja di mana DIY sendiri menempati peringkat ke-8 nasional dengan NTE mencapai Rp11,2 miliar. Bimtek PKSM Bantul membuka perspektif mahasiswa bahwa diversifikasi hutan rakyat menjadi agrowisata terpadu, seperti yang dicontohkan Wanadelima Orchard, mampu menciptakan multi-income secara berkelanjutan. Adapun Bimtek KTH Sido Rahayu yang berkolaborasi dengan BPDAS Opak Serayu mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya rehabilitasi lahan kritis melalui penghijauan, konservasi tanah, dan penguatan kelembagaan kelompok tani sebagai fondasi keberlanjutan hutan rakyat. Dari keseluruhan kegiatan tersebut, mahasiswa menyadari bahwa kerja penyuluhan kehutanan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses panjang membangun kepercayaan, mengubah perilaku, dan menghidupkan harapan di tengah masyarakat tani hutan yang selama ini menjadi garda terdepan penjaga kelestarian hutan.

    Pada Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan, mahasiswa magang terlibat langsung dalam tiga kegiatan utama yang memberikan pengalaman teknis berharga, yaitu Stock Opname dan Monitoring Industri, Penilaian Hasil Inventarisasi HKm Sedyo Makmur, dan Sosialisasi SIKARYO. Melalui kegiatan stock opname di sejumlah industri pengolahan kayu di DIY, mahasiswa belajar menginput dan mengolah data stok kayu bulanan 2025 ke dalam spreadsheet terstruktur sebagai bagian dari persyaratan RPBBI, sekaligus menghasilkan Berita Acara kondisi stok kayu per perusahaan. Kegiatan penilaian inventarisasi tegakan jati di HKm Sedyo Makmur melatih mahasiswa dalam menerapkan inventarisasi di lapangan, dan dari sini mahasiswa memahami bahwa jika terdapat perbedaan signifikan antara volume LHC dan hasil penilaian aktual, maka dapat berdampak besar pada pengambilan keputusan, sehingga verifikasi data lapangan menjadi sangat krusial. Sosialisasi Sistem Informasi Kayu Rakyat Yogyakarta (SIKARYO) yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan tentang penatausahaan kayu rakyat secara tertib dan transparan melalui sistem berbasis web. Kegiatan ini memperkenalkan SIKARYO sebagai sistem untuk pencatatan, pelaporan, dan pelacakan asal usul kayu, dengan output utama berupa Surat Angkutan Kayu Rakyat (SAKR). Efektivitas sosialisasi diukur melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Pengalaman ini menegaskan kepada mahasiswa bahwa di balik selembar dokumen angkutan kayu, terdapat sistem panjang yang menuntut ketelitian, integritas data, dan komitmen bersama. Peran mahasiswa kehutanan kelak bukan hanya di hutan, tetapi juga dalam memastikan setiap pohon yang ditebang tercatat, legal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

    Magang di DLHK DIY membuktikan bahwa pembangunan kehutanan yang efektif memerlukan keterpaduan antara penguatan sosial-kelembagaan dan ketertiban administrasi hasil hutan. Bidang Perhutanan Sosial dan Penyuluhan menegaskan peran strategis penyuluh dan inovasi agribisnis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani hutan, sedangkan Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Hutan mempertegas pentingnya verifikasi data, kepatuhan hukum, dan adaptasi dengan teknologi digital dalam pengawasan kayu rakyat. Kedua bidang terbukti saling melengkapi dan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam memasuki dunia kerja kehutanan. 

    Penulis: Syahla Yasmine Nabila, Wanda Illyasa Rizqi, Najla Kamilah Salim, Pinto Tungga Muhammad

  • Pererat Silaturahmi Ramadan, CDC-Forestry UGM Gelar Buka Bersama dan Ramah Tamah Bersama Volunteer Mahasiswa

    Yogyakarta, 6 Maret 2026 — Dalam suasana bulan suci Ramadan, CDC-Forestry UGM menyelenggarakan kegiatan Buka Bersama dan Ramah Tamah yang dilaksanakan di rumah makan Lombok Idjo Jogja Adisoetjipto.

    Acara ini dihadiri oleh tim serta para volunteer yang selama ini terlibat aktif dalam berbagai kegiatan dan program CDC-Forestry UGM. Kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kekeluargaan di antara seluruh anggota tim yang telah berkontribusi dalam berbagai program pengembangan karier mahasiswa di Fakultas Kehutanan UGM.

    Melalui kegiatan ini, CDC-Forestry UGM tidak hanya menghadirkan momen berbuka puasa bersama, tetapi juga ruang untuk memperkuat silaturahmi, meningkatkan kekompakan tim, serta mencairkan suasana formal yang selama ini terbentuk dalam aktivitas kerja sehari-hari. Suasana santai dan penuh keakraban memungkinkan setiap anggota tim untuk saling berinteraksi lebih dekat, berbagi cerita, serta mempererat hubungan emosional antaranggota.

    Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan buka bersama ini juga menjadi kesempatan bagi seluruh tim untuk melepas penat setelah menjalankan berbagai kegiatan dan program CDC-Forestry UGM, sekaligus menumbuhkan kembali semangat dan motivasi dalam mendukung berbagai inisiatif pengembangan karier mahasiswa kehutanan. Interaksi yang hangat dalam suasana Ramadan turut memperkuat rasa kebersamaan serta membangun kerja sama tim yang lebih solid ke depannya.

    Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan dan keberkahan Ramadan melalui momen berbagi makanan serta kebahagiaan bersama. Dengan terjalinnya hubungan yang semakin erat antaranggota tim, diharapkan semangat kolaborasi dalam mengembangkan berbagai program CDC-Forestry UGM dapat terus meningkat.

    Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, CDC- Forestry UGM berharap kebersamaan yang terbangun dapat menjadi fondasi kuat dalam menjalankan berbagai program yang mendukung pengembangan kompetensi serta kesiapan karier mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM di masa mendatang.

    Penulis: Hermudananto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *