Siapkan Karier Global Mahasiswa, CDC- Forestry UGM Gelar Short Course “Japanese for Workplace Readiness”

Yogyakarta, 27 Februari 2026 – Dalam upaya mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa, CDC-Forestry UGM menyelenggarakan program Short Course “Japanese for Workplace Readiness”, sebuah program pelatihan bahasa dan budaya kerja Jepang yang dirancang khusus bagi mahasiswa S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Program ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar bahasa Jepang serta pemahaman mengenai etika dan kesiapan kerja di lingkungan profesional Jepang.

Kegiatan ini menghadirkan dua tutor yang memiliki pengalaman akademik dan internasional, yaitu Tomoha Onuma dari Kyushu University serta Annisa Diva Rahmawati dari Fakultas Kehutanan UGM. Melalui sesi pembelajaran yang interaktif, peserta akan mendapatkan pengenalan bahasa Jepang praktis yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di tempat kerja, sekaligus pemahaman mengenai budaya profesional di Jepang.

Program short course ini dilaksanakan setiap hari Jumat selama tiga bulan, yaitu pada periode Februari hingga April 2026 (kecuali hari libur nasional). Pertemuan perdana dilaksanakan pada 27 Februari 2026 pukul 10.00–11.00 WIB bertempat di Ruang Multimedia Fakultas Kehutanan UGM. Seluruh peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan secara lengkap akan memperoleh e-certificate sebagai bentuk pengakuan atas partisipasi mereka dalam program ini.

Sebagai program pengembangan karier yang bersifat eksklusif, kegiatan ini memiliki kuota terbatas hanya untuk 25 mahasiswa S1 Fakultas Kehutanan UGM. Untuk mengikuti program ini, peserta diwajibkan melampirkan surat motivasi serta komitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.

Melalui penyelenggaraan program ini, CDC Forestry UGM berharap mahasiswa tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa asing, tetapi juga memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkarier di tingkat internasional, khususnya di Jepang. Program ini juga menjadi bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam memperluas peluang karier global bagi mahasiswa kehutanan serta memperkuat jejaring akademik dan profesional dengan institusi internasional.

Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat mulai mempersiapkan langkah menuju karier global serta membuka peluang berkontribusi dalam sektor kehutanan di tingkat internasional.

Penulis: Hermudananto

Similar Posts

  • Magang Mandiri di Kawasan Konservasi: Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM Perkuat Pembelajaran Berbasis Praktik di Taman Nasional Gunung Merbabu

    Yogyakarta, 06 Maret 2026 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Magang Mandiri memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang sebagai sarana penguatan kompetensi dan pengalaman praktis di bidang kehutanan. Kegiatan magang tersebut dilaksanakan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, yaitu Nasywa Anindya Fauzi, Najwa Aulia Luthfi Safira, Khoeirien Riedha Faaza, di Balai Taman Nasional Gunung Merbabu pada periode 05 Januari – 06 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pengelolaan kawasan konservasi serta memperdalam pemahaman mengenai praktik pengelolaan hutan di lapangan.

    Pelaksanaan kegiatan magang ini juga mendapatkan dukungan dari Career Development Center Forestry UGM (CDC-Forestry UGM) yang berperan dalam memfasilitasi pengembangan karier mahasiswa melalui penyediaan informasi peluang magang, penguatan jejaring dengan berbagai institusi mitra, serta pendampingan mahasiswa dalam pelaksanaan program magang. Melalui dukungan CDC Forestry UGM, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman profesional yang relevan dengan bidang keilmuan kehutanan sekaligus memperluas wawasan mengenai dunia kerja di sektor kehutanan dan konservasi. Kegiatan magang mandiri ini dilaksanakan di wilayah kerja Balai Taman Nasional Gunung Merbabu tepatnya pada Resort Wonolelo yang berada di SPTN II Wilayah Krogowanan. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa mendapatkan bimbingan dari staf dan pengelola kawasan serta terlibat dalam berbagai kegiatan teknis yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi.

    Dalam kegiatan magang ini, terdapat dua tema utama yang menjadi fokus pembelajaran, yaitu estimasi cadangan karbon dan inventarisasi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Pada kegiatan estimasi cadangan karbon, mahasiswa melakukan pengambilan data lapangan untuk mendukung pendugaan cadangan karbon pada vegetasi hutan. Sementara itu, kegiatan inventarisasi sosial ekonomi dilakukan untuk memahami kondisi serta keterkaitan masyarakat sekitar dengan kawasan hutan, termasuk pemanfaatan sumber daya dan dinamika sosial yang berkembang di tempat wisata Top Selfie Pinusan Kragilan yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.

    Selain kegiatan utama tersebut, mahasiswa juga berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Resort Wonolelo, salah satunya adalah patroli kawasan. Kegiatan patroli ini bertujuan untuk memantau kondisi kawasan serta menjaga kelestarian hutan dari berbagai potensi gangguan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami secara langsung peran penting patroli dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi.

    Mahasiswa juga diperkenalkan dengan kegiatan pengelolaan persemaian yang ada di kawasan, termasuk proses pembibitan serta teknik penanaman beberapa jenis tanaman kehutanan. Salah satu kegiatan yang dipelajari adalah praktik penanaman bibit pulai sebagai bagian dari upaya pemulihan dan pengayaan vegetasi di kawasan hutan. Kegiatan ini memberikan pemahaman praktis mengenai tahapan pembibitan hingga penanaman yang menjadi bagian penting dalam kegiatan rehabilitasi hutan.

    Melalui kegiatan magang mandiri ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar yang komprehensif mengenai pengelolaan kawasan konservasi, mulai dari aspek ekologi hingga sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan. Pengalaman ini juga diharapkan mampu memperkuat pemahaman mahasiswa dalam mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan praktik pengelolaan hutan di lapangan.

    Kedepannya, kegiatan magang seperti ini diharapkan dapat terus mempererat hubungan kerja sama antara Fakultas Kehutanan UGM dengan pengelola kawasan konservasi seperti Taman Nasional, sehingga dapat mendukung pengembangan pendidikan kehutanan yang aplikatif serta berkontribusi pada pengelolaan hutan yang berkelanjutan di Indonesia.

    Penulis: Nasywa Anindya Fauzi, Najwa Aulia Luthfi Safira, Khoeirien Riedha Faaza

  • |

    EPIC Test 2025: Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kompetensi Bahasa Inggris Mahasiswa Kehutanan UGM

    Yogyakarta, 29 Oktober 2025 – Asosiasi Mahasiswa Kehutanan Internasional (International Forestry Students’ Association/IFSA) berkolaborasi dengan Career Development Center (CDC) Fakultas Kehutanan UGM sukses menyelenggarakan EPIC TEST 2025 “Conquer & Connect: Bridging Worlds with Confident Communication”, sebuah rangkaian kegiatan peningkatan kemampuan bahasa Inggris yang dirancang untuk membantu mahasiswa dan peserta memahami tingkat kemahiran berbahasa mereka serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang akademik dan profesional. Kegiatan ini berlangsung dalam dua sesi utama, bekerja sama dengan OMNI English Indonesia, menghadirkan Hary Prasojo Syafa’atillah, CEO & Founder OMNI English Indonesia, sebagai narasumber.

    Rangkaian acara dimulai dengan Masterclass Session pada Jumat, 24 Oktober, bertempat di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM. Pada sesi ini, peserta mendapatkan strategi efektif, tips praktis, dan wawasan mendalam mengenai cara menghadapi tes kemampuan bahasa Inggris secara optimal. Kegiatan ini tidak hanya membekali peserta dengan teknik menghadapi ujian, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai komunikasi yang percaya diri dan efektif dalam konteks global.

    Selanjutnya, pada Rabu, 29 Oktober, dilaksanakan sesi English Proficiency Test, yaitu tes kemampuan bahasa Inggris sesungguhnya yang memberikan hasil objektif sekaligus sertifikat resmi bagi peserta. Sertifikat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari syarat kelulusan, beasiswa, hingga persiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, peserta juga memperoleh sertifikat masterclass serta kesempatan untuk berjejaring dan mendapatkan panduan personal dalam meningkatkan skor mereka di masa mendatang.

    Kegiatan EPIC Test 2025 diikuti oleh 57 peserta, yang menunjukkan antusiasme tinggi untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris serta kesiapan menghadapi tantangan global. CDC–Forestry UGM berharap program ini dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa dan peserta lain untuk mengembangkan potensi diri, memperluas peluang masa depan, serta membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi di tingkat internasional.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    Sosialisasi 3MT Virtual Competition 2025 dan Pengenalan Aplikasi MiriCanvas

    Yogyakarta, 18 September 2025 – Career Development Center (CDC) Forestry UGM bersama Fakultas Kehutanan UGM sukses menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi 3MT Virtual Competition 2025 sekaligus sosialisasi penggunaan aplikasi MiriCanvas. Acara ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh mahasiswa dari jenjang S1, S2, dan S3 di bidang kehutanan serta rumpun ilmu terkait.

    Kegiatan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Siti Hanifah Mahdiyanti (Ketua Panitia 3MT Fakultas Kehutanan UGM) dan Irenna Elizabeth S.Ak., MBA (Partnership Development Manager MiriCanvas). Keduanya membagikan wawasan dan tips mengenai cara menyampaikan hasil riset secara singkat, padat, dan menarik dalam format Three Minute Thesis (3MT).
    Dr. Siti Hanifah menekankan pentingnya kemampuan komunikasi ilmiah bagi mahasiswa dan peneliti, terutama dalam menjembatani riset dengan audiens yang lebih luas. Sementara itu, Irenna Elizabeth memperkenalkan MiriCanvas sebagai aplikasi inovatif yang dirancang untuk membantu peserta menyiapkan presentasi dan video 3MT dengan lebih efektif dan kreatif.
    Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana menyusun pesan riset dalam waktu terbatas, sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung penyampaian yang lebih impresif.

    Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan UGM, serta menjadi langkah awal dalam mempersiapkan mahasiswa untuk berkompetisi dalam ajang 3MT Virtual Competition 2025.
    Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa semakin termotivasi untuk menyampaikan gagasan risetnya secara sederhana, singkat, dan bermakna—membuktikan bahwa riset hebat bisa dipahami oleh semua kalangan.

    Penulis: Hermudananto

  • | |

    Kuliah Umum Fakultas Kehutanan UGM Bahas Masa Depan Hutan Adat dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan

    Yogyakarta, 13 Agustus 2026 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Kuliah Umum yang menghadirkan dua narasumber dari unsur pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM ini mengangkat isu strategis mengenai hutan adat, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, serta pendekatan bentang alam terpadu (Integrated Landscape Approach).
    Kegiatan kuliah umum dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan KemahasiswaanFakultas Kehutanan UGM, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya mahasiswa memperoleh wawasan langsung dari para praktisi dan pemangku kebijakan mengenai dinamika pengelolaan hutan, khususnya terkait hutan adat, masyarakat, kebijakan kehutanan, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
    Kehadiran dua narasumber dari unsur pemerintah dan NGO diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif kepada mahasiswa mengenai hubungan antara kebijakan, praktik pengelolaan di tingkat tapak, serta kebutuhan kolaborasi dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
    Kuliah umum diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM dari jenjang S1, S2, S3, dan Insinyur. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara kebijakan kehutanan, praktik pengelolaan di tingkat tapak, masyarakat, serta keberlanjutan ekosistem.

    Memahami Masa Depan Hutan Adat: Antara Praktik dan Kebijakan

    Sesi pertama menghadirkan Julmansyah, S.Hut., M.A.P., Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan RI. Materi yang disampaikan bertajuk “Menatap Masa Depan Hutan Adat: Antara Praktik dan Kebijakan.”
    Dalam paparannya, dijelaskan bahwa hutan adat adalah hutan yang berada di wilayah masyarakat hukum adat (MHA). Penetapan hutan adat memiliki tujuan penting, antara lain menjamin ruang hidup masyarakat hukum adat, melestarikan ekosistem, melindungi kearifan lokal dan pengetahuan tradisional, serta menjadi salah satu instrumen dalam penyelesaian konflik yang berkaitan dengan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan.
    Pembahasan juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Proses penetapan hutan adat membutuhkan kepastian hukum mengenai subjek masyarakat hukum adat, identifikasi dan verifikasi wilayah adat, serta dukungan produk hukum daerah.
    Hingga Juli 2026, materi mencatat telah terdapat 174 unit hutan adat dengan luas sekitar 368.877 hektare, yang memberikan manfaat kepada sekitar 92.955 kepala keluarga.
    Paparan tersebut memberikan perspektif kepada mahasiswa bahwa pengelolaan hutan adat tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologis, tetapi juga menyangkut kepastian hak, tata kelola, kelembagaan, kebijakan, dan hubungan antara masyarakat dengan negara.

    Peran NGO dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan

    Sesi kedua menghadirkan Dr. Edi Purwanto, Direktur Tropenbos Indonesia, dengan materi “Peran NGO dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan: Pembelajaran dari Tropenbos Indonesia di Kalimantan Barat melalui pendekatan Integrated Landscape Approach.”
    Dr. Edi menjelaskan bahwa Integrated Landscape Approach (ILA) merupakan pendekatan pengelolaan bentang alam yang berupaya menyeimbangkan kebutuhan konservasi, produksi, dan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi multipihak, koordinasi lintas sektor, dan pengelolaan sumber daya alam secara terpadu. Pendekatan ini bertumpu pada tiga pilar, yaitu kepastian hak dan tata kelola, lanskap yang tangguh, serta ekonomi regeneratif.
    Dalam konteks tersebut, NGO memiliki peran sebagai fasilitator, penghubung pengetahuan, serta katalis kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan mitra pembangunan. Pengalaman Tropenbos Indonesia di Kalimantan Barat menunjukkan penerapan pendekatan tersebut melalui berbagai program, antara lain perhutanan sosial, konservasi berbasis masyarakat, perlindungan koridor orangutan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, tata kelola gambut, sawit berkelanjutan, dan agroforestri.
    Salah satu pembelajaran penting yang disampaikan adalah bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak dapat dilakukan secara sektoral. Persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi saling berkaitan sehingga membutuhkan pendekatan terpadu pada tingkat bentang alam. Keberlanjutan juga tidak hanya bergantung pada konservasi hutan, tetapi juga pada penguatan hak masyarakat, pemeliharaan fungsi ekosistem, pengembangan ekonomi lokal, dan kolaborasi multipihak.

    Membekali Calon Rimbawan dengan Perspektif Lintas Sektor

    Kegiatan ini memberikan pembelajaran penting bagi mahasiswa kehutanan bahwa tantangan pengelolaan hutan di masa depan membutuhkan kompetensi yang lebih luas daripada aspek teknis kehutanan semata. Calon rimbawan perlu memahami kebijakan, aspek sosial dan tenurial, pengelolaan bentang alam, pengembangan ekonomi masyarakat, serta kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
    Melalui kuliah umum ini, mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai beragam peluang kontribusi profesional di bidang kehutanan, baik di pemerintahan, NGO, lembaga pembangunan, masyarakat, maupun sektor swasta.
    Bagi Career Development Center (CDC-Forestry) UGM, kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai dunia profesional kehutanan sekaligus memperkenalkan kompetensi dan peran yang dibutuhkan dalam menghadapi transformasi pengelolaan hutan dan sumber daya alam.
    Kuliah umum ini menegaskan bahwa masa depan kehutanan membutuhkan rimbawan yang mampu bekerja lintas sektor dan membangun kolaborasi. Pengelolaan hutan yang berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga hutan, tetapi juga memastikan hak masyarakat, kesehatan ekosistem, dan kesejahteraan dapat berjalan secara seimbang dalam satu kesatuan bentang alam.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    CDC-Forestry UGM Gelar Sharing Session “Explore Your Global Academic Journey”, Hadirkan Pengalaman Studi di Thailand dan Jepang

    Yogyakarta, 9 Juli 2026 – Career Development Center (CDC) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (CDC-Forestry UGM) kembali menyelenggarakan kegiatan pengembangan kapasitas mahasiswa melalui Sharing Session: Explore Your Global Academic Journey – Pengalaman Studi di Thailand & Jepang pada Kamis (9/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring pukul 13.00–15.00 WIB ini diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari mahasiswa dan alumni yang berminat melanjutkan studi ke luar negeri.

    Acara dibuka oleh moderator, Farah, yang mengawali sesi dengan memperkenalkan tujuan kegiatan serta para narasumber. Selanjutnya, Ketua CDC-Forestry UGM, Hermudananto, menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, Hermudananto menekankan bahwa kegiatan sharing session ini merupakan salah satu upaya CDC-Forestry UGM untuk memberikan inspirasi sekaligus motivasi kepada mahasiswa dalam mempersiapkan studi lanjut di luar negeri. Menurutnya, selain prestasi akademik, mahasiswa juga perlu memahami berbagai peluang, tantangan, serta strategi untuk mempersiapkan diri sebelum menempuh pendidikan di negara tujuan.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai kehidupan akademik maupun non-akademik selama studi di luar negeri. Pengalaman langsung dari para narasumber diharapkan dapat membantu mahasiswa menyusun rencana studi yang lebih matang sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk mengejar kesempatan belajar di tingkat internasional,” ujar Hermudananto.

    Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh wawasan dari dua narasumber yang merupakan dosen Fakultas Kehutanan UGM dengan pengalaman studi internasional.

    Narasumber pertama, Dr. Alnus Meinata, dosen dan peneliti di Laboratorium Pemuliaan Pohon dan Dendrologi, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di University of Tsukuba, Jepang. Alnus memiliki kepakaran di bidang dendrologi, konservasi spesies berkayu, genetika, serta pemuliaan pohon, dengan fokus penelitian terkini pada pemanfaatan machine learning untuk pemuliaan jati dalam menghadapi perubahan iklim global. Selain aktif melakukan penelitian, ia juga terlibat dalam berbagai proyek biodiversitas sebagai ahli flora.

    Dalam pemaparannya, Alnus menjelaskan berbagai alasan mengapa studi ke luar negeri menjadi investasi penting bagi pengembangan karier akademik maupun profesional. Ia menekankan bahwa studi di luar negeri memberikan kesempatan untuk mengakses fasilitas riset berkelas dunia, membangun jejaring internasional, memperluas perspektif lintas disiplin ilmu, serta mengembangkan kemampuan adaptasi dan kepemimpinan. Selain itu, ia juga berbagi informasi mengenai berbagai pilihan beasiswa, peluang pendanaan dari universitas, serta alternatif pembiayaan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa internasional. Ia juga mengajak peserta untuk tidak ragu mengejar kesempatan studi ke luar negeri karena tersedia berbagai skema beasiswa dan peluang kerja paruh waktu yang dapat membantu pembiayaan selama studi.

    Sementara itu, narasumber kedua, Annisa Primaningtyas, S.T., M.Eng., dosen Laboratorium Rekayasa Biomaterial, Departemen Teknologi Hasil Hutan, membagikan pengalaman menempuh studi doktoral di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand. Annisa merupakan lulusan Program Sarjana dan Magister Teknik Kimia UGM dengan bidang penelitian yang berfokus pada keberlanjutan hasil hutan.

    Dalam sesinya, Annisa memberikan gambaran mengenai berbagai peluang studi di Thailand, mulai dari sistem pendidikan pascasarjana, biaya hidup yang relatif terjangkau, hingga beragam pilihan beasiswa dari pemerintah, universitas, maupun lembaga internasional. Ia juga membagikan langkah-langkah praktis untuk mencari calon pembimbing (advisor), menyusun dokumen aplikasi, serta mempersiapkan proses seleksi beasiswa. Tidak hanya membahas aspek akademik, Annisa juga mengulas berbagai tantangan non-akademik yang umum dihadapi mahasiswa internasional, seperti adaptasi budaya, bahasa, makanan, hingga mengatasi homesick. Menurutnya, persiapan yang matang dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberhasilan selama menjalani studi di luar negeri.

    Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai strategi memperoleh beasiswa, tips menghubungi calon pembimbing, persiapan kemampuan bahasa Inggris, hingga pengalaman beradaptasi dengan lingkungan akademik dan kehidupan sehari-hari di Jepang maupun Thailand.

    Melalui kegiatan ini, CDC-Forestry UGM berharap semakin banyak mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM yang memiliki keberanian untuk merencanakan studi lanjut di luar negeri serta mampu mempersiapkan diri secara akademik maupun non-akademik sejak dini. Sharing session ini juga menjadi bagian dari komitmen CDC-Forestry UGM dalam mendukung pengembangan kompetensi global mahasiswa serta memperluas akses terhadap peluang pendidikan internasional.

    Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh narasumber, moderator, dan peserta sebagai penutup rangkaian acara.

    Penulis: Hermudananto

  • |

    CDC Forestry UGM dan Control Union Academy Selenggarakan Pelatihan ISO 9001:2015 Internal Auditor

    Yogyakarta, 11 September 2026 — Career Development Center (CDC) Forestry Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Control Union Academy menyelenggarakan pelatihan ISO 9001:2015 Internal Auditor – Quality Management System selama dua hari, pada 10–11 September 2026, bertempat di Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya CDC Forestry UGM dalam memperkuat kompetensi profesional sivitas akademika dan peserta pelatihan untuk memahami serta menerapkan sistem manajemen mutu dan audit internal secara efektif.

    Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System/QMS) ISO 9001:2015, sekaligus membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam melaksanakan audit internal. ISO 9001 merupakan standar sistem manajemen mutu bagi organisasi yang bertujuan mendukung kemampuan organisasi dalam menyediakan produk dan jasa secara konsisten sesuai dengan persyaratan pelanggan serta ketentuan yang berlaku. Penerapannya juga diarahkan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan melalui sistem yang efektif dan proses peningkatan yang berkelanjutan.

    Acara dibuka oleh Ketua CDC-Forestry UGM, Hermudananto, yang menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kolaborasi antara CDC-Forestry UGM dan Control Union Academy. Dalam sambutannya, Hermudananto juga menyampaikan bahwa kolaborasi ini akan dilanjutkan melalui serangkaian pelatihan berikutnya hingga Desember 2026, sebagai bagian dari upaya bersama untuk menyediakan program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan profesional dan dunia kerja.

    Pada hari pertama, 10 September 2026, peserta mendapatkan materi mengenai gambaran umum Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 serta pemahaman terhadap persyaratan standar yang mencakup Klausul 4 sampai dengan Klausul 10, meliputi konteks organisasi, kepemimpinan, perencanaan, dukungan, operasi, evaluasi kinerja, dan peningkatan. Peserta juga memperoleh materi mengenai sistem pengendalian dokumen ISO 9001:2015 sebagai salah satu aspek penting dalam mendukung efektivitas penerapan sistem manajemen mutu.

    Dalam pelatihan, peserta juga diperkenalkan pada prinsip-prinsip manajemen mutu yang meliputi customer focus, leadership, engagement of people, process approach, improvement, evidence-based decision making, dan relationship management. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam membangun sistem manajemen yang berorientasi pada kualitas, efektivitas proses, keterlibatan sumber daya manusia, serta peningkatan kinerja organisasi secara berkelanjutan. Selain itu, pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) juga dibahas sebagai kerangka untuk memastikan proses direncanakan, dilaksanakan, dipantau, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkesinambungan.

    Pada hari kedua, 11 September 2026, pelatihan difokuskan pada audit sistem manajemen. Materi meliputi gambaran umum audit, prinsip dan mekanisme audit, kompetensi auditor, program audit, serta pelaksanaan audit. Peserta kemudian mengikuti sesi audit kecukupan dokumen Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 serta simulasi audit internal. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep audit, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengidentifikasi bukti audit, melakukan verifikasi, menyusun pertanyaan audit berdasarkan kriteria yang relevan, serta mengenali ketidaksesuaian dan peluang perbaikan. Bukti audit dapat diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, maupun peninjauan dokumen.

    Pelatihan menghadirkan Dr. Ir. Wiyono, S.Hut., M.Si., IPU. sebagai narasumber. Beliau merupakan dosen Sekolah Vokasi UGM, asesor kompetensi BNSP, konsultan sertifikasi ISO, serta auditor sertifikasi SVLK dan PHL aspek sosial. Pengalaman tersebut memberikan perspektif praktis dalam memahami sistem manajemen mutu, persyaratan ISO 9001:2015, serta pelaksanaan audit internal dalam konteks organisasi.

    Melalui pelatihan ini, CDC-Forestry UGM dan Control Union Academy berharap peserta memiliki pemahaman dan kompetensi yang lebih baik dalam membangun, menerapkan, mengevaluasi, dan meningkatkan sistem manajemen mutu organisasi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia profesional melalui penyediaan program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Bagi CDC Forestry UGM, kegiatan tersebut sejalan dengan komitmen untuk memberikan layanan pengembangan karier dan kompetensi yang mendukung kesiapan sivitas akademika dalam menghadapi tuntutan profesional yang semakin dinamis.

    Penulis: Hermudananto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *