SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan

  • |

    CDC-Forestry UGM dan KMMH Gelar Sharing Session Nature-Based Climate Solutions, Bahas Integrasi Aksi Iklim, Pengelolaan Kebakaran, Masyarakat, dan Biodiversitas

    Yogyakarta, 7 Oktober 2026 — Career Development Center (CDC) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), berkolaborasi dengan DASSA Corp dan Keluarga Mahasiswa Manajemen Hutan (KMMH), menyelenggarakan Sharing Session bertajuk “Nature-Based Climate Solutions: Integrating Climate Action, Forest & Land Fire Management, Community, and Biodiversity” pada Rabu (7/10). Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang C.308.1, Gedung IFFLC, Fakultas Kehutanan UGM, pukul 15.30–17.30 WIB.

    Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan diskusi antara akademisi, praktisi, dan mahasiswa mengenai peran solusi berbasis alam (Nature-Based Climate Solutions/NbS) dalam menghadapi perubahan iklim. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa upaya mitigasi iklim tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga perlu mengintegrasikan pengelolaan kebakaran hutan dan lahan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

    Sharing session menghadirkan dua narasumber, yaitu Haryo Ajie Dewanto, S.Hut., M.S., Technical & Business Development Director DASSA, dan Dr. Ir. Wahyu Wardhana, S.Hut., M.Sc., IPU., dosen Fakultas Kehutanan UGM. Diskusi dimoderatori oleh Gery Novrian, Head of Climate at DASSA.
    Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua KMMH, I Komang Agus Juliantara, dan dilanjutkan oleh Ketua CDC-Forestry UGM, Ir. Hermudananto, S.Hut., M.Sc., IPM, ASEAN Eng. Kemudian dalam pemaparan materi selanjutnya, Haryo Ajie Dewanto membahas pendekatan solusi iklim berbasis alam dengan mengintegrasikan aksi iklim, pengelolaan kebakaran hutan dan lahan, masyarakat, serta biodiversitas. Materi ini menyoroti pentingnya pengembangan proyek karbon yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memberikan manfaat bagi ekosistem dan masyarakat. Pengelolaan gambut, pencegahan kebakaran, restorasi ekosistem, konservasi biodiversitas, dan penguatan penghidupan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun inisiatif iklim yang berkelanjutan.

    Sementara itu, Wahyu Wardhana menyampaikan materi “Memetakan Api, Menghitung Karbon: Pemetaan Kebakaran Gambut dan Estimasi Emisinya untuk Proyek Karbon yang Kredibel—Studi Kasus Indonesia”. Pemaparan ini mengulas pemanfaatan penginderaan jauh dan citra satelit untuk memetakan area yang terbakar, menilai tingkat keparahan kebakaran, serta memperkirakan emisi karbon akibat kebakaran gambut.
    Salah satu poin penting yang disampaikan adalah bahwa titik panas (hotspot) tidak selalu mencerminkan keseluruhan luas area yang terbakar. Kebakaran gambut juga dapat berlangsung di bawah permukaan sehingga membutuhkan pendekatan pemantauan yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, integrasi data satelit, pengukuran lapangan, kondisi hidrologi gambut, dan analisis ketidakpastian diperlukan untuk menghasilkan estimasi emisi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.

    Materi tersebut juga menekankan pentingnya kualitas data dan sistem pemantauan, pelaporan, serta verifikasi (Monitoring, Reporting, and Verification/MRV) dalam pengembangan proyek karbon. Informasi yang akurat mengenai kebakaran dan emisi menjadi dasar penting untuk merancang intervensi mitigasi, mengevaluasi hasil kegiatan, serta menjaga kredibilitas klaim pengurangan emisi.
    Bagi mahasiswa kehutanan, pembahasan ini memperlihatkan semakin luasnya kompetensi yang dibutuhkan di sektor kehutanan. Selain memahami ekologi hutan dan pengelolaan sumber daya alam, calon rimbawan perlu mengembangkan keterampilan dalam sistem informasi geografis (SIG), penginderaan jauh, analisis data, hidrologi gambut, pengelolaan kebakaran, serta pelibatan masyarakat. Kombinasi kompetensi tersebut membuka peluang pengembangan karier dan riset di bidang perubahan iklim, proyek karbon, konservasi biodiversitas, restorasi ekosistem, serta pembangunan berkelanjutan.

    Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi langsung dengan narasumber. Rangkaian acara juga mencakup sambutan dari penyelenggara, penyerahan suvenir, dokumentasi bersama, serta penutupan acara.
    Kolaborasi antara CDC-Forestry UGM, DASSA Corp, dan KMMH melalui kegiatan ini merupakan salah satu upaya mempertemukan dunia akademik dengan praktik profesional. Pertukaran pengetahuan semacam ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai tantangan dan peluang di sektor kehutanan, sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi kebutuhan kompetensi di dunia kerja yang semakin berkaitan dengan agenda keberlanjutan dan aksi iklim.

    Melalui berbagai kegiatan berbagi pengetahuan dan jejaring profesional, CDC-Forestry UGM terus mendorong pengembangan kompetensi, kesiapan karier, serta kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, alumni, dan mitra industri untuk mendukung terwujudnya rimbawan yang adaptif, kolaboratif, dan berkontribusi pada pengelolaan hutan lestari.

    Penulis: Hermudananto